Sritex Bidik Ekspor di 3 Negara Eropa

JAKARTA (KRjogja.com) – Genjot kontribusi pendapatan dari ekspor, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) berencana memperbesar cakupan pasar ekspornya. Perseroan menyatakan saat ini tengah membidik tiga negara baru yang berada di kawasan Eropa.

Sekretaris Perusahaan Sri Rejeki Isman, Welly Salam, menuturkan, perseroan sampai saat ini masih dalam tahap pendekatan kepada tiga negara tersebut. "Pasar baru ada beberapa negara Eropa yang kita penetrasi lagi, tapi masih dalam tahap pendekatan. Ada tiga negara di Eropa yang dibidik. Ini untuk segmen militer juga ada fashion,"ujarnya di Jakarta.

Dia mengungkapkan, keputusan perseroan untuk memperbesar pasar ekspornya juga didorong oleh kondisi geopolitik di kawasan tersebut, yang saat ini tengah menjadi incaran dari serangan terorisme.”Karena kondisi geopoltik di Eropa itu membuat mereka akan tambah jumlah yang lebih banyak," terangnya.

Welly menyebutkan proses pendekatan terhadap ketiga negara tersebut ditargetkan perseroan akan selesai pada akhir tahun 2017 mendatang."Sekarang masih proses. Paling lambat akhir tahun depan sudah deal," ucapnya.

Saat ini, lanjutnya negara tujuan ekspor perseroan mencapai sebanyak 36 negara untuk seragam militer. "Untuk produk fashion, asal negara Eropa tapi bisa didistribusikan ke 50 negara," pungkasnya.

Belum lama ini, perseroan menerbitkan obligasi global bond senilai USD350 juta dan mendapatkan respon positif dari pelaku pasar. Hal ini ditandai dengan kelebihan permintaan obligasi emiten perusahaan tekstil ini hingga 2 kali lipat.

Allan Moran Severino, Direktur Keuangan Sritex pernah mengatakan, Sritex menerbitkan obligasi global sebesar USD350 juta bunga 8,25 persen jatuh tempo 2021 yang ditawarkan kepada pelaku pasar internasional yang meliputi investor Amerika Serikat, Eropa dan Asia.

”Sritex mengurangi nilai penerbitan dari sebelumnya sebanyak-banyaknya USD420 juta menjadi USD350 juta dikarenakan hanya sebanyak USD180,7 juta pemegang obligasi lama yang menjual kepemilikan mereka," ujarnya.

Untuk diketahui, obligasi lama yang diterbitkan Sritex melalui anak perusahaan di Singapura sebelumnya adalah sebesar USD270 juta dengan bunga 9 persen dan jatuh tempo pada 2019.

Manajemen, lanjut Allan, mempercepat jadwal road show penawaran obligasi dari yang dijadwalkan semula. Hal itu untuk mengantisipasi situasi pasar yang semakin tidak pasti menjelang referendum keluarnya Inggris dari zona Eropa, maupun rapat bank sentral AS yang kemungkinan akan menaikkan kembali suku bunga.

"Keputusan tersebut membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, di mana permintaan atas global bond baru yang diterbitkan mengalami kelebihan permintaan sebanyak 2 kali di tengah situasi dan kondisi perekonomian global sedang tidak menentu," ungkapnya. (*)

BERITA REKOMENDASI