Sukses Benahi Manajemen, Pendapatan Taru Martani Naik Tajam

YOGYA, KRJogja.com  –  Salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DIY yang bergerak sebagai produsen cerutu, PT Taru Martani mengalami kenaikan laba yang signifikan, meski situasi ekonomi sedang didera pandemic Covid-19. Kenaikan laba tersebut tak lepas pembenahan manajemen dan penyelesaikan kewajiban di tahun-tahun sebelumnya yang berjalan dengan baik. Disamping itu, terus berinovasi produk, termasuk produk premium.

“Tahun 2020, kita mencatatkan laba sebesar 9,6 miliar. Dan tahun 2021, sampai November ini, telah mencapai laba Rp 12 miliar,” ujar Direktur PT Taru Martani, Drs Nur Achmad Affandi MBA , Minggu (12/12) ketika ditanyakan progress perusahaan menjelang tutup buku tahun 2021.

Dikemukakan Nur Achmad, sesuai keputusan Rapat Umum Pemenang Saham (RUPS), seParuh dari laba yang diperoleh disetorkan ke kas daerah. Separuh lainnya digunakan untuk cadangan dan juga keperluan insentif karyawan. Dana cadangan ini termasuk digunakan untuk pengembangan perusahaan.

“Untuk tahun 2022, sesuai dengan kajian para konsultan bisnis, karena situasi ekonomi belum membaik betul, maka kami hanya berani memprediksi naik 6 persen,” ujar Nur Achmad.

Capaian laba ini, tidak diperoleh dengan mudah. Selain melakukan pembenahan, juga menguatkan diri sebagai perusahaan cerutu yang andal, dengan kualitas ekspor. Awalnya laba tahun 2017, laba yang diperoleh Rp 1,8 miliar dengan masih memiliki beberapa tanggungan, atau kewajiban.

Tahun 2018 dan 2019, berusaha menyelesaikan kewajiban terlebih dahulu, dan akhirnya menyisakan laba Rp 1,5 miliar. “Nah tahun 2020,  laba yang diperoleh naik menjadi 9,6 miliar,” ujar Nur Acmad.

Capaian RoA 24 Persen

Sampai saat ini,  modal pemerintah ke PT Taru Martani, sebesar Rp 50 miliar. Maka  jika dilihat kemampuan perusahaan dalam Return on Assets = Pendapatan Bersih (Pendapatan setelah pajak)/Total Aset dikali 100 persen.

Rumus ROA akan memberi gambar bagi manajer, investor, atau analis mengenai seberapa efisien manajemen perusahaan dalam menggunakan aset untuk menghasilkan laba bersih dengan memanfaatkan aset yang ada. Jika sampai November 2021 laba yang diraih sudah mencapai Rp 12 miliar (belum diaudit), maka RoA sekitar 24 persen.

Nur Achmad diangkat oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X  pada 28 Februari 2018, dengan harapan mampu membawa Taru Martani berkinerja lebih baik. Sebelumnya,  produk cerutu dianggap kurang prospek.  Namun setelah melakukan pendalaman dan melakukan pemetaan, memperbaiki kualitas produksi, Taru Martani kini telah bangkit kembali. Tahun 2017, produksinya hanya 58 ton. Namun pada tahun 2018, naik menjadi 80 ton. “Di  tahun 2019, setelah perbaikan kualitas produksi, melakukan pameran di Dubai, hasilnya terjadi peningkatan permintaan dan kemudian produksi meningkat menjadi 130 ton,” ujar mantan Pimpinan DPRD DIY.

Permintaan terus meningkat meski pandemi datang. Tahun 2020, produksi naik tajam sebanyak 240 ton. “Produksi sebanyak ini, jika dipertahankan sudah bagus.  Dengan peningkatan produksi yang luar biasa ini, selain meningkatkan setoran laba yang signifikan ke Pemda DIY, juga kian mensejahterakan perkerja. Selain mendapat gaji bulanan 12 kali, dan THR 1 kali, pekerja  juga mendapat tambahan gaji 2 kali sebagai insentif atas peningkatan omset dari hasil kerja dan perjuangan mereka,” ujar Nur Achmad.

Kenaikan omset ini ikut menguntungkan Koperasi Karyawan. Karena koperasi menjadi salah satu distributornya. “Omset koperasi menjadi Rp 11 miliar, dan raihan SHU mencapai Rp 1 miliar,” katanya.

Saat ini Taru Martani mendapat penugasan oleh Gubernur DIY untuk mengelola cadangn pangan. Untuk menjalankan amanah tersebut, menggandeng 9  Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang tersebar di Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul. (Jon)

BERITA REKOMENDASI