Aria Rajasa, Pelopor Bisnis Clothing dengan ‘Crowdsourcing’

DALAM waktu dua tahun, anak muda ini ganti perusahaan sebanyak 6 kali. Pada saat itulah Aria Rajasa Masna semakin yakin, ia tidak cocok jadi pegawai. Jualan kaos pada akhirnya jadi pilihan lulusan Teknik Informasi Universitas Indonesia ini.

Aria Rajasa, KRjogja.com temui di sela Ignition 2 Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang diselenggarakan di Grha Sabha Pramana UGM Minggu pekan lalu. Ia dikenal sebagai pelopor bisnis clothing di Indonesia dengan sistem crowdsourcing melalui gantibaju.com. Perusahaan yang ia dirikan tahun 2009 tersebut fokus pada clothing line dengan tema desain yang ’Indonesia banget’.

Karena ingin memperluas pasar dengan desain yang lebih fleksibel, di tahun 2012 akhirnya tercetuslah tees.co.id. Startup yang ia bangun bersama dua rekannya,Gary Lilardi dan Bima Satrya Tama tersebut lebih merupakan marketplace merchandise yang dapat dirancang sendiri oleh penggunanya. “Kan gantibaju.com nasionalisme banget tuh, karena begitu kita expand ke desain lain, identitasnya akan hilang, jadi kita harus bikin space baru,” jelas ayah dua anak tentang alasannya mendirikan tees.co.id.

Awalnya ia terjun di dunia startup atau yang dulu dikenal dengan istilah Tech-Business karena merasa tidak cocok bekerja sebagai pegawai. Meski dari sisi pendapatan tergolong besar, ia tidak menemukan kepuasan. “Capek jadi pegawai harus nurut terus, meski sama teman sendiri, tetap nggak cocok, ingin bikin kerjaan sendiri. Saya dari dulu punya passion di bidang desain,” tambahnya.

Kesuksesan gantibaju.com dan tees.co.id tidaklah mulus. Ia mengakui banyak kegagalan yang terjadi di awal, mulai dari mencoba studio desain, studio web dan sebagainya. Bidang clothing khususnya kaos dipilihnya karena memiliki market target yang besar, semua orang sejak dulu hingga sekarang mengenakannya, dan bersifat timeless. Industri streetwear yang selalu berkaitan dengan sistem distro dan desainer, sangat potensial untuk diefisiensikan lebih lanjut digabungkan dengan teknologi.

Membangun startup menurut Aria perlu diawali dengan melakukan riset pasar. Awalnya ia mencari tahu apakah idenya itu laku di pasaran atau tidak. Karena selain memperkuat brand, butuh referensi yang banyak dari customer, investor, partner, dan lainnya. Bagi yang ingin terjun di dunia ini harus berani memulai dan menyesuaikan ekspektasi. Bahkan bisa dengan menjual ide sebelum produknya itu sendiri ada. “Prinsipnya, kalau nggak punya duit, ya effort!” tegas penggemar Tony Hsieh dan Eric Ries ini.

Khusus tentang Yogyakarta, Aria punya kesan tersendiri. Ia menilai kota pariwisata ini sangat potensial untuk pertumbuhan startup di Indonesia. Aria Rajasa sendiri juga sudah membuktikannya dengan membuka kantor cabang tees.co.id di Bantul.

“Sengaja kami pilih Jogja juga karena programer pertama yang saya rekrut itu orang Jogja. Juga karena dirasa lebih gampang nyari talent developer dan desainer berkualitas di sini. Di Jakarta itu sebenarnya banyak sekali yang biasa aja tapi diperebutkan,” ujarnya.

Aria Rajasa dengan usaha startupnya berhasil meraih beberapa prestasi. Diantaranya sebagai Best Startup in Indonesia di ajang SparxUp Award 2010, Best Business dari Swa di tahun 2011, pemenang International Young Creative Enterpreneur dalam kategori fashion dari British Council, dan termasuk The Marketeers Top 100 Most influencal Youth, Women, Netizen 2011. (Latifa Nurina)

BERITA REKOMENDASI