Awalnya Cari Uang Buat Bayar Les, Kini Windi Buka Lapangan Kerja

ADA banyak alasan seseorang menjadi entrepreneur atau berwirausaha. Windi Mahendra Putri (19) awalnya punya alasan yang sangat sederhana ketika memulai berwirausaha, bisa membayar les jelang kelulusannya di SMA.

“Aku mikir gimana caranya cari uang untuk les di kelas XII. Aku nggak mau membebani orang tua,” ungkap gadis yang akrab dipanggil Windi ini mengawali cerita bagaimana ia membangun bisnis jilbab dan busana muslimnya. Keinginan untuk tidak membebani orangtua itulah yang mendorong Windi bersama partner usahanya Reza Alief Arfianto mendirikan Maheraz Boutiq di kelas XII.

Kini mahasiswi semester dua ini bukan hanya bisa membayar uang kuliahnya sendiri, namun juga menciptakan lapangan kerja bagi orang-orang disekelilingnya. Lewat Maheraz, Windi dapat membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Tidak berhenti sampai disitu, ia juga mempekerjakan ibu-ibu di lingkungan rumahnya yang tidak punya penghasilan.

“Waktu itu, banyak yang bilang ke aku, kelas dua belas kok masih jualan. Sebenarnya itu kan hanya masalah bagi waktu. Teman-teman juga masih sempat main, nongkrong ke mana. Apa bedanya sama aku yang masih sempat jualan kan?”

Naik turun dalam berbisnis ia alami juga. Produknya sempat tidak laku sama sekali di dua bulan pertama. “Kami mulai Juni 2015 sampai Agustus 2015 enggak ada satupun yang beli.” Mulai dari ditawarkan ke teman orang tua hingga dijadikan doorprize gratisan ia lakoni untuk memperkenalkan produk. Pernah pula ia rugi berjuta-juta karena kain yang ia pesan tidak sesuai dengan foto katalog.

“Aku dulu juga suka bawa jilbab ke sekolah buat dirawis pas istirahat atau jam kosong. Curi-curi waktulah,” katanya. Permintaan yang semakin banyak kemudian membuat Windi mengembangkan usahanya. Salah satunya dengan membuat tempat dan membeli alat produksi serta mempekerjakan orang.

Untuk tenaga penjahit dan perawis Windi mempekerjakan ibu-ibu tetangga sekitar rumahnya. “Sekitar rumah aku banyak bapak-bapak yang bekerja sebagai buruh. Istrinya kebanyakan tidak bekerja, ngurus anak. Mau bantu suami cari uang tapi bingung mau kerja apa. Aku mikir, kenapa enggak diajak kerja,” lebih lanjut Windi bercerita. Saat ini desanya terkenal sebagai desa perawis jilbab.

Selain itu, kantor ia jadikan sarana untuk meningkatkan kualitas diri. Setiap kali waktu ibadah, diberlakukan istirahat dan semua langsung beribadah. Sejak ia memberlakukan porsi istirahat yang lebih besar diakui Windi mempengaruhi kapasitas produksi. “Aku lebih takut besok kalau di tanya di akhirat, kok kerja sama aku membuat tidak beribadah,” lanjutnya sambil tersenyum simpul.

Dari awal defisit hingga pernah omset menembus angka seratus juta sudah ia alami semua. Akan tetapi menurut Windi yang terpenting dalam berbisnis bukan semata memikirkan keuntungan. Paling utama bagaimana menikmati bisnis dan jualan sebagai sebuah upaya. “Yang mahal itu dari proses aku jualan selama ini adalah pengalamannya. Aku tidak akan jadi seperti sekarang kalau tidak melalui pengalaman jatuh bangun selama ini,” papar Windi.

Mahasiswi Managemen Pemasaran UNY ini memang sudah suka berjualan sejak SD, SMP, SMA hingga saat ini ia kuliah. Jualanya pun variatif. Sebelum Maheraz, ia berjualan mulai dari gelang anak-anak, jus, snack, sate usus, sepatu dan banyak lagi. Awal dulu orang tua Windi hanya menganggap kegiatan Windi ini sebagai sarana main-main. “Orang tua punya pikiran ini mainanku. Ya dibiarin aja, daripada aku kebanyakan hangout atau nongkrong, orang tua lebih suka lihat aku ‘main’ dengan caraku ini,” ujar gadis yang berencana menjajal bisnis kuliner ini.

Menurut Windi yang terpenting bagi teman-teman yang ingin mulai menjadi Entrepreneur, langkah pertama adalah berdoa sungguh-sungguh. Setelah itu baru usaha, tidak boleh setengah-setengah. Ketiga, jangan lupa untuk bersedekah dan jangan gampang berhenti dan melemahkan diri sendiri.

Tidak setengah-setengah bagi Windi bukan berarti modalnya harus besar. “Yang penting tetap melangkah. Kayak aku dulu, enggak payu ya meluncur terus. Harus tetep niat. Karena aku yakin kalau kita nggak rugi, nggak ngalamin down ya kita ga bakal naik,” tutupnya. (Lintang Fajar Nugrahani)

BERITA REKOMENDASI