Jus Edamame, Usaha yang Belum Banyak Dilirik

LANGKAH kaki menuntunku hingga gang sempit dengan rumah yang berjejer rapat. Percakapan di sebuah grup whattsapp kemarin yang membawaku sampai ke tempat ini, tempat produksi jus edamame.

Suara blender terdengar seperti lantunan merdu di telingaku. "Mbak, jangan cuma dilihat, kulit edamamenya nggak bakal ngupas sendiri," ujar suara berat menatapku yang tengah duduk dihadapan sekeranjang edamame. Suara berat itu ternyata milik Victor Damianus Aray Dwi Harjunathin (50), pemilik usaha jus edamame. 

Pagi ini memang aku berada di rumah Pak Aray. Saya sudah berencana bertandang ke pengusaha yang menekuni jus edamame sejak seorang teman mengirimkan sebuah pesan menawarkan dagangan jus edamame berlabel “Dewik” tersebut. 

 Rasa penasaran yang memuncak akhirnya membuatku memilih mendatangi tempat produksinya. Siang itu saya menyusuri rumah demi rumah di kawasan Sidoarum, Godean, Sleman.  Rumah tampak sama seperti rumah di sekitarnya. Pagar rendah dan pintu kayu berwarna biru menyambutku. Seorang wanita yang kemudian kuketahui sebagai istri pengusaha jus edamame tersebut tengah menyiram tanaman di depan rumah. 

Dewi Kurniawati, biasa dipanggil dengan Dewi menjadi cikal bakal dari label jus edamame tersebut. Menurut pemiliknya, nama “Dewik” gampang diingat, selain itu pemilihan nama itu menjadi landasan cinta yang sangat dalam terhadap istrinya yang juga seringkali turut membantunya membuat jus edamame. 

Bukan hanya berkunjung, namun saya  juga ingin belajar membuatnya. "Mari Mbak, ikut ke dalam saja!" ajak Pak Aray, biasa ia dipanggil. Senyumku mengembang ketika permintaanku untuk belajar mebuat jus disetujui olehnya. Aku pun melangkah mengikuti arah kakinya masuk ke ruang yang disebutnya sebagai ruang produksi. 

Sekeranjang edamame mentah tersaji di meja hadapanku. Tak jauh dari meja itu, sebuah kompor masih menyala dengan pengukus berukuran besar diatasnya. Suara blender yang berdengung turut menarik perhatianku dengan cairan kental berwarna hijau di dalamnya. 

Edamame merupakan kacang kedelai yang dipanen ketika masih muda dan berwarna hijau. Rasanya manis dan teksturnya juga tidak terlalu renyah dibandingkan dengan kacang kedelai yang telah matang.

Edamame menjadi terkenal di masyarakat karena banyaknya gizi yang terkandung di dalamnya. Manfaatnya pun beragam seperti menjaga daya tahan tubuh, mencegah hipertensi, mengurangi resiko kanker, dan menjaga sistem pencernaan agar tetap lancar. 

Berawal dari koran yang dibaca, edamame dipilih sebagai usaha baru yang menjajikan bagi pria kelahiran Jakarta ini. "Belum terlalu dikenal masyarakat, jadi peluang diminati oleh masyarakat seharusnya juga bisa lebih besar daripada jus biasa yang saat ini sudah banyak beredar di pasaran," ungkapnya sembari meneruskan aktivitas yang tertunda karena menyambut kedatanganku tadi.

"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tawarku melihat beliau dan seorang pegawainya sibuk membuat jus edamame tersebut. Sepertinya hari ini pesanan jus sedang banyak untuk menyambut buka puasa. Hal itu terlihat dari banyak botol yang berjajar dan belum terisi jus berwarna hijau tersebut. 

Meskipun terletak di perumahan, tepatnya Jalan Kutilang P14, Perumahan Sidoarum 3, Godean, Sleman, ternyata jus edamame ini mampu diproduksi hingga enam puluh botol perhari. Apabila ada pesanan seperti hari ini, maka produksinya akan lebih dari enam puluh botol.

Pak Aray kemudian menyuruhku untuk mengupas edamame yang baru saja selesai dikukus dan diambil isinya untuk masuk dalam proses pengolahan selanjutnya. "Setiap hari, saya rutin ambil edamame 5 kg dari seorang teman saya yang bekerja sebagai petani edamame di Sleman," ungkapnya. 

Pengambilan bahan baku dari rekannya tersebut sebenarnya dilakukan demi membantu mengembangkan pertanian edamame di Kabupaten Sleman. Proses pengolahan jus edamame hanya memerlukan waktu yang lumayan singkat, berkisar kurang lebih tiga jam saja setiap hari.
 
"Pembuatannya gampang Mbak. Edamame mentah ini dikukus, setelah itu dikupas kulitnya dan diambil bijinya kayak yang Mbak lakukan. Setelah itu di blender agar menyatu dan ditambah rempah-rempah yaitu gula dan susu segar. Kalau sudah nanti dimasak dan ditunggu dingin baru bisa dikemas," paparnya.

Usaha yang baru ditekuni selama lima bulan ini ternyata sudah memiliki banyak peminat. Selain memasarkan lewat online, Pak Aray juga membawanya ke berbagai event, seperti Pasar Tani, Jajan Pasar, dan pameran-pameran lainnya. 

Menurutnya, anak muda cenderung menjadi peminat utama dari pemasaran jus edamame dingin. Sedangkan untuk jus edamame hangat lebih merambah kalangan tua dan lansia. "Kalau ada yang pesan jus edamame tanpa susu juga bisa Mbak, biasanya itu buat lansia yang sudah tidak bisa minum susu," ungkapnya.

Dijual seharga Rp6.000,00 tiap botol, jus edamame ini membawa omzet kurang lebih Rp 300.000,00 setiap harinya. "Lumayan Mbak, namanya usaha ya harus ditekuni supaya bisa berkembang," ujarnya sembari sibuk mengemas jus-jus yang sudah jadi dalam barisan botol plastik. 

Jus edamame ini mampu bertahan selama dua belas jam di suhu ruang sedangkan di freezer mampu bertahan hingga sebulan. "Biasanya kalau kita jual posisi beku, dimasukkan dalam kotak pendingin. Itu bisa tahan sampai empat hari," ungkapnya.

Beliau menatapku sembari tersenyum tipis tatkala tahu tugas yang diberikannya tadi baru berlangsung beberapa biji saja karena selebihnya aku asyik mendengarkan informasinya. "Maaf Pak, baru segini," ujarku malu-malu.

Beliau mengangguk. "Nggak papa Mbak, kedatangan mbak saja sudah bikin saya senang. Masih ada anak muda yang punya niat belajar berwirausaha.

Saya sebagai orang tua yang juga memiliki anak siap mewadahi anak muda seperti Mbak untuk belajar membuat jus edamame sebagai langkah awal berwirausaha ataupun menjadi mitra pemasaran," pungkasnya sembari menghantarkan langkah pamit kepulanganku.. (Brigitta Adelia)

 

BERITA REKOMENDASI