Membangun Bisnis via Radio Komunitas Ala Hendro Pleret

Editor: KRjogja/Gus

DI kalangan seniman, ‘nyek-nyekan’ itu wajar. Terutama ketika ada salah satu di antara mereka mencoba dunia baru yang itu dianggap aneh. “Saling membuli dan ngerjain itu biasa di komunitas seniman,” kata Hendro Pleret (56).

Seniman yang dikenal sebagai komedian dan emsi ini, ketika pertama kali mendirikan radio komunitas bernama Swadesi, oleh beberapa teman dianggap kurang kerjaan. Mereka bilang, dengan radio berdaya jangkau radius 1 kilometer, hanya akan berbuah sia-sia. Dianggap kurang kerjaan.

“Saya hanya bisa berdoa, ketika teman-teman membuli. Semoga dari radio kecil, bisa tumbuh menjadi besar. Saya percaya. Orang yany dibuli termasuk orang teraniaya. Doa orang teraniaya diijabah Allah,” tuturnya.

Cibiran dan bulian, disikapi Hendro sebagai asupan untuk membesarkan semangat membangun bisnis radio. Hasilnya sekarang sangat terasa. Hendro Pleret meraih kesuksesan berkat radio. Perlahan dia membenahi Swadesi. Baik membenahi daya pancar, materi siaran serta manajemen. Bahkan kini Swadesi mengembangkan sayap. Mengelola beberapa stasiun radio di Jawa Tengah. “Tidak boleh ada akuisisi radio. Istilahnya kami mengelola manajemen. Jaringan Swadesi ada di Yogya, Kebumen, Purworejo dan Rembang,” ungkapnya.

Di saat bisnis radio mengalami lesu, Hendro Pleret justru menikmati manisnya bisnis media audio ini. Dia menggabungkan radio dengan marketing. Melalui radio, dia jualan obat herbal.

“Saya jualan obat herbal melalui radio. Lewat siaran di Swadesi inilah saya memromosikan obat-obat herbal seperti Bio7 dan Bio Moringa. Responsnya bagus. Terbukti sampai sekarang pemasaran terus berkembang, bahkan saya bisa membangun jaringan pemasaran melalui radio-radio di luar Yogya,” paparnya.

Hendro menambahkan, merintis radio komunitas, beberapa waktu setelah Gempa Yogya 2006. Dia bikin alat pemancar sendiri, siaran sendiri, pasang antena sendiri. Semua dikerjakan sendiri. “Mungkin karena dulu semua saya kerjakan sendiri dan berangkat dari pemancar kecil, sehingga ditertawakan orang, termasuk dibuli teman-teman seniman,” tuturnya.

BERITA REKOMENDASI