Sempat Ditentang Orang Tua, Haniki Kini ‘Mentereng’

KEINGINAN orang tua terkadang tak sejalan dengan keinginan anak. Orang tua memiliki harapan tersendiri untuk pilihan hidup yang akan dipilih anaknya. Seringkali hal tersebut malah menjadi tantangan tersendiri bagi anak untuk membuktikan bahwa dengan pilihan hidupnya, ia pun juga bisa sukses. Hal tersebut dialami oleh Andi Rahadian, owner Haniki Corner yang terletak di Ruko Gatic Seturan.

Setiap harinya, Haniki Corner menjual 200 porsi pisang krispi dengan berbagai varian topping. Beberapa pelanggan pun terpaksa duduk di pinggir pintu karena kehabisan tempat duduk untuk mengantri pisang krispi tersebut.

Terlihat juga driver Go-jek yang datang silih berganti setiap menitnya mengantrikan pesanan konsumennya. “Sebenarnya saya juga gak nyangka responnya akan sebaik ini,” ujar pria yang akrab disapa Andi tersebut pada suatu malam saat diwawancarai setelah pisang krispinya sold out.

Namun siapa sangka, dibalik kesuksesan Andi mengelola Haniki yang baru saja membuka cornernya di Seturan pada 12 Maret 2016 tersebut menyimpan banyak cerita perjuangan. “Awalnya dia nggak didukung sama ayahnya,” ujar Laila Rahmadiana Yusuf, partner Andi dalam mengelola Haniki dan juga calon partner hidup Andi. Wanita yang akrab disapa Ella tersebut mengatakan, Andi sempat merasa bimbang karena ia merasa ide dan niatnya yang sudah matang tidak didukung.  

“Ayah saya ingin saya kerja kantoran seperti beliau, tapi saya nggak mau. Sejak saya SMA saya sudah hobi jualan apa saja, saya ingin berbisnis dan tidak ingin kerja kantoran karena saya tidak ingin terikat,” jelas Andi. Matanya menerawang sambil menyunggingkan senyuman tipis. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah memperjuangkan mimpinya, justru semakin membuatnya tertantang untuk membuktikan kesuksesan pada ayahnya.

Andi mengatakan bahwa sejak SMA ia sudah mulai berjualan. Mulai dari pulsa, sepatu, sampai tas. Di saat kuliah, ia mulai tertarik dengan bisnis kuliner. Pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia tahun 2011 itu pun mulai memikirkan beberapa ide, namun tidak juga terwujud. “Karena tiap memutuskan untuk jualan suatu makanan, pasti udah ada yang jualan itu, padahal saya ingin menjual sesuatu yang beda,” ujar Andi.

Andi akhirnya menemukan ide untuk membuat pisang krispi bertopping setelah menemukan inspirasi dari internet. “Sambil menunggu wisuda, istilahnya itu kan pengangguran ya, terus waktunya saya pakai untuk eksperimen resep,” jelasnya.

Andi kemudian bercerita tentang eksperimen resepnya selama 2 bulan untuk pisang krispi. “Kadang terlalu keras, kadang kemanisan, ya dicoba terus sampai akhirnya menemukan adonan yang rasanya pas dan enak,” sambungnya.

“Saya menonjolkan rasa, kualitas, dan visualitas pisang krispi, dan karena konsepnya semua harus fresh, saya menciptakan pisang krispi yang bisa disimpan lagi untuk besok kalau stoknya gak habis,” ujar Andi sambil melirik ke arah freezer yang terletak di dalam kubikel dapur Haniki Corner. “Dan yang beda dari Haniki itu semua varian toping yang digunakan bentuknya padat, jadi perlu tenaga juga untuk memarutnya,” sambungnya.

Brand Haniki pun mulai diciptakan pada 21 November 2015. “Haniki itu bahasa jawa lho, artinya ‘ha iki!’ atau ‘nah, ini!’ banyak yang mengira Haniki itu bahasa Jepang,” ujar Andi sambil tertawa kecil. Dibantu oleh Ella, Andi mempromosikan haniki melalui event-event kampus dengan membuka stand. “Awalnya jual 50 porsi aja gak ada yang ngelirik,” ujar Ella. Namun mereka berdua tetap bersabar dan gigih dalam berbisnis. Berkat kegigihan itu, Haniki dapat membuka sebuah Corner pada 12 Maret 2016 di Ruko Gatic Seturan.

“Awalnya ayahnya nggak mendukung, tapi lama-lama beliau mengerti setelah ada event-event yang diikuti oleh Haniki,” ujar Ella yang pada malam itu barusan datang ke Haniki Corner untuk membantu berberes. “Ya intinya, orang tua cuma butuh bukti dari pilihan kita,” sambung Andi.   

“Alhamdulillah saat ini responnya cukup baik.. kalau saya, kuncinya cuma dua, yaitu pilihan dan mental. Kalau kamu sudah yakin dengan pilihan yang kamu ambil, ya kamu harus punya mental untuk menjalani itu. Kalau kamu bertanya-tanya, aduh bisa nggak ya? Bisa nggak ya? Ya gak bakal bisa,” ujar Andi di akhir wawancaranya dengan KRjogja.com. (Salsabila Annisa)

 

BERITA REKOMENDASI