2019, Pasar Modal Syariah Terus Berkembang

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal,  Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Hoesen mengatakan pada tahun 2018 industri pasar modal syariah terus berkembang. Hal ini terlihat dari instrumen reksa dana syariah meningkat 21,4 persen, sedangkan nilai aktiva bersih reksa dana syariah meningkat 19,8 persen.

Saat ini terdapat 221 reksa dana syariah dengan nilai aktiva bersih sebesar Rp 33,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2017 dengan jumlah 182 reksa dana syariah dan nilai aktiva bersih Rp 28,3 triliun. 

“Instrumen reksa dana syariah meningkat 21,4 persen, sedangkan Nilai Aktiva Bersih reksa dana syariah meningkat 19,8 persen,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal,  Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Hoesen, di Jakarta, Rabu (5/12).
Sejak OJK  menerbitkan daftar Efek Syariah yang berisi 407 saham dan berlaku efektif pada tanggal 1 Desember 2018, jumlah tersebut meningkat 6,5 persen dibandingkan akhir tahun 2017 dengan jumlah 382 saham.  Adapun untuk konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) adalah sebesar 391 saham. Jumlah tersebut meningkat 7,1 persen secara Year to Date YTD). Dari segi kapitalisasi pasar, terjadi penurunan sebesar 3,7  persen menjadi  Rp 3.567 triliun  pada akhir November. 

Adapun untuk sukuk, 30 November 2018  terdapat peningkatan jumlah sukuk outstanding sebesar 36,7 persen  dan nilai sukuk outstanding meningkat 45,2 persen. Saat ini terdapat 108 sukuk korporasi outstanding dengan nilai Rp  22,8 triliun. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan outstanding pada tahun 2017 dengan jumlah 79 sukuk dan nilai  Rp 15,7 triliun.

Untuk efek beragun aset syariah, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia telah menerbitkan fatwa nomor 120/DSN-MUI/II/2018 tentang Sekuritisasi Berbentuk Efek Beragun Aset Berdasarkan Prinsip Syariah dan fatwa nomor 121 / DSN-MUI/II/2018 tentang EBA-SP berdasarkan Prinsip Syariah. 

Selain instrumen EBA, OJK bekerja sama dengan stakeholders terkait juga sedang melakukan kajian terkait sukuk wakaf. Saat ini terdapat 435.944 hektar tanah wakaf yang mayoritas bukanlah aset wakaf produktif. Berdasarkan benchmark dari negara lain, dengan memanfaaatkan sukuk, terdapat potensi untuk mengubah aset tersebut menjadi aset produktif. (Lmg) 

BERITA REKOMENDASI