2023, CIMB Niaga Syariah Spin Off dari Induk Usaha

JAKARTA, KRJOGJA.com-  CIMB Niaga Syariah merencanakan akan melakulan spin off atau pemisahan dari induk  akhir  tahun 2022 atau awal 2023. Pasalnya batas akhir yang ditetapkan Bank Indonesia agar  Unit Usaha Syariah (UUS) harus spin off dari induk  menjadi Badan Usaha Syariah (BUS) pada tahun 2023 mendatang.

Agar bisa spin off,  CIMB Niaga syariah terus menggenjot kinerjanya  terutama untuk pembiayaan harus tumbuh 30 persen per tahun. “Tahun ini kami tumbuh 30 persen dan tahun depan juga tumbuh 30 persen untuk pembiayaan, dan itu artinya pendanaannya juga tumbuh 30 persen juga,” kata Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P Djajanegara, disela sela MoU dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di Jakarta, Senin (14/10).

Dikatakan, untuk mencapai pembiayaan dan pendanaan yang meningkat 30 persen, salah satu strategi yang akan dilakukan Niaga Syariah adalah melakukan kerjsama dengan berbagai pihak termasuk dengan BPJPH, sosialisasi kepada masyarakat dan nasabah yang belum mempergunakan produk syariah.

“sebenarnya banyak strategi yang akan dilakukan untuk mencapai peningkatan yang 30 persen itu, termasuk dengan MoU dengan BPJPH ini,” tegasnya.

Dijelaskan, per September jumlah nasabah perbankan syariah baru mencapai  sudah 16 persen, sementara 84 persennya belum menjadi nasabah syariah.“Pasar untuk nasabah baru potensi masih besar sekali karena baru 16 persen yang menjadi nasabah syariah, sedangkan 84 persen belum nasabah syariah,” tegasnya.

Dipaparkan, saat ini perusahaan tengah memperkuat produk-produk pembiayaan sebagai persiapan untuk memisahkan diri dari induk usaha. Salah satu produk yang akan dikembangkan adalah pembiayaan secara berkelanjutan. 

Hingga September 2019, pembiayaan meningkat 29 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 lalu. Dengan komposisi terbesar pembiayaan CIMB Niaga Syariah berasal dari sektor korporasi dan konsumer. Paling banyak segmen korporasi dan dari sisi ritel itu mortgage. 

“Angka persisnya belum tahu tapi yang saya inget 29 persen tumbuhnya bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018,” tegasnya.

Sebenarnya, tambah Pandji, persiapan  spin off telah dilakukan sejak dua tahun lalu, hal ini agar layanan pada bank syariah setara dengan yang ada pada bank konvensional.

“Jadi kita sudah lakukan sejak satu sampai dua tahun lalu, tim pun sudah ada organisasi bayangan sudah ada. Produk yang konvesional kita punya, service level agreement kita naikkan kita harus lihatkan supaya service di cabang itu sama persis saat nasabah ketemu customer service cabang konvesional,” ujarnya.

Pandji menyatakan alasan lain menjadikan spin off harus dilakukan pada 2023 antara lain CIMB Niaga Syariah ingin lebih dulu memaksimalkan peraturan atau kebijakan internal dan memaksimalkan infrastruktur pada konvensional serta mencapai pertumbuhan lebih cepat. 

Langkah ini dilakukan karena berkaca pada pengalaman beberapa bank dengan aset kecil pada saat spin off yang ternyata hanya menjadi beban buat induknya. 

“Dari sisi aset juga jangan sampai waktu kita konversi aset kita kecil profit kita kecil kalau begitu buat induk marah. Makanya kita punya target kalau kita konversi minimum aset sebesar 70 persen – 80 persen minimun liability kita sampai Rp 2 triliun kan nendang dari sisi share holders liatnya oh bagus happy. Lalu human resourcesnya jangan sampai stigmanya kurang bagus makanya kita sosialisasi tidak hanya nasabah tapi internal,” jelasnya.( Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI