Aktivitas Sosial Bakal Longgar, Kredit Diprediksi Tumbuh Lebih Besar

YOGYA , KRJOGJA.com – Pertumbuhan ekonomi indonesia pada tahun 2022 diperkirakan terakselerasi jika pandemi terus membaik. Hal ini disampaikan Direktur Utama Lembaga Pengembangan perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara dalam sambutannya pada Seminar Indonesia Risk Management Outlook di Yogyakarta, kemarin.

Menurut Mirza pelonggaran restriksi sosial di banyak negara turut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi global sehingga memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun ini akan tumbuh lebih besar dibanding tahun sebelumnya.

Melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian stabil, Mirza juga mengingatkan untuk mewaspadai inflasi domestik meskipun nilai tukar rupiah masih tergolong stabil.

Di pihak lain ia memperkirakan bank sentral dunia (The Fed) juga akan menaikkan suku bunga yang tentu saja akan direspon secara positif oleh indonesia dengan turut menaikkan suku bunga acuannya.

“Terpantau, The Fed berencana menaikkan suku bunganya pada pertengahan tahun 2022. Suku bunga global mungkin akan naik tahun ini tapi secara perlahan,” ujar Mirza.

Sementara itu Kepala Kantor Regional 3 OJK Jateng-DIY Aman Sentosa menjelaskan munculnya wabah Covid-19 pada akhir tahun 2019 di Wuhan menyebabkan aktivitas ekonomi di awal tahun 2020 terganggu. Permintaan menurun dan aktivitas produksi menurun. Bahkan, sampai akhir tahun 2020 ekonomi global mengalami kontraksi hingga 3,5 persen dan sebanyak 170 negara mengalami tekanan ekonomi. Termasuk Indonesia yang mengalami ketidakpastian sehingga pemerintah mengambil strategi keseimbangan antara penanganan kesehatan danpemulihan ekonomi nasional guna menghidupkan aktivitas perekonomian.

“Strategi ini cukup berhasil dan perekonomian Indonesia mulai pulih kembali yang ditandai pertumbuhan ekonomi dari minus 3,49 persen pada triwulan III/2020 (yoy) menjadi 3,51 pada triwulan III/2021. Pertumbuhan ekonomi di Jateng juga membaik dari minus 3,79 persen dan minus 2,98 persen (Yoy) pada kuartal III/2020 menjadi 2,56 persen dan 2,30 persen pada kuartal III/2021.

Aman Sentosa menjelaskan pemulihan ekonomi tersebut diikuti dengan penguatan stabilitas sistem keuangan. Sampai Desember 2021 industri jasa keuangan dalam posisi stabil dengan kinerja perbankan semakin menunjukkan tren positif. Aset secara nasional tumbuh 10,29 persen (yoy), kredit 5,24 persen (yoy) dan dana pihak ketiga 12,21 persen (yoy).

“Yang perlu menjadi perhatian adalah melonjaknya rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) meski dalam batas yang masih terkendali. Stabilitas sistem keuangan ini tidak terlepas dari sinergi kebijakan terintegrasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan pemerintah (Kementerian Keuangan),” tandasnya.  (*)

 

 

 

BERITA REKOMENDASI