BI dan OJK Ikut Dukung Stabilitas Keuangan Nasional

JAKARTA, KRJOGJA.com – Gubernur Bank Indonesia ( BI) mengatakan, BI telah dan akan terus memperkuat bauran kebijakan yang konsisten untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, BI sejak Mei 2018 telah menaikkan suku bunga acuan (Bl-7DRRR) sebesar 150 bps hingga menjadi 5.75 persen. BI juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar Rupiah maupun pasar valas. Pada 1 November 2018 mendatang. BI akan memberlakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Ford‘vard (DNDF) dalam rangka mempercepat pendalaman pasar valas serta memberikan alternatif instrumen lindung nilai bagi bank dan korporasi. 

Dijelaskan, mitigasi dalam skala internasional juga telah dilakukan BI dengan memperkuat jaring pengaman keuangan internasional bekerjasama dengan otoritas dari beberapa negara. Di sela-sela rangkaian lMF-WB Group Annual Meetings 2018 di Bali. pada 110ktober 2018. 

"BI clan Monetary Authority of Singapore melakukan kesepakatan awal kerja sama keuangan dalam bentuk bilateral swap and repo arrangements senilai ekuivalen 10 miliar dokar AS. Juga  BI dan Bank Sentral Jepang (Bank of Japan). yang bertindak sebagai agen Kementerian Keuangan Jepang, telah menandatangani amandemen perjanjian kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA) senilai USDZ276 miliar." 

Sementara itu Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mengatakan, sektor keuangan mencatat perkembangan positif misalnya  pertumbuhan kredit perbankan yang terus meningkat 12.69 persen serta penghimpunan dana di pasar modal yang mencapai Rp 143.6 triliun (per 19 Oktober 2018 ytd). Sementara itu. pada triwulan Ill 2018. volatilitas di pasar modal domestik masih berlanjut seiring masih tingginya tekanan dari pasar global Namun. tekanan jual investor nonresiden terpantau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. 

“Di tengah volatilitas pasar tersebut, profit risiko sektor jasa keuangan terpantau dalam kondisi terkendali. Permodalan lembaga jasa keuangan berada di level memadai untuk mengantisipasi peningkatan risiko sekaligus mendukung ekspansi pembiayaan. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan per triwulan III 2018 berada pada level 23.03 persen,” tegasnya.

Adapun  rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan dan NonPerforming Financing (NPF) perusahaan pembiayaan masing-masing sebesar 2.66 persen dan 3.17 persen.  Adapun dana kelolaan industri pengelolaan investasi per 19 Oktober 2018 tercatat sebesar Rp 729.6 triliun meningkat 7.23 persen dibandingkan akhir 2017. ( Lmg)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI