BPD Harus Segera Bertransformasi

YOGYA (KRjogja.com) – Implementasi program Bank Pembangunan Daerah Regional Champion (BRC) yang telah dicanangkan 2010 lalu belum mencapai sasaran. BRC ini guna mendorong BPD bertransformasi agar lebih mampu bersaing dan berperan sebagai agent of regional development.

"Meskipun perkembangan kinerja BPD cukup baik, tetapi sasaran BRC belum tercapai sesuai harapan. Hingga akhir 2013, belum terdapat BPD yang memenuhi seluruh target BRC, bahkan kualitas kredit produktif memburuk," ujar Direktur Eksekutif Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda), Wimran Ismaun di Yogyakarta, Minggu (18/09/2016).

Wimran mengatakan kelemahan implemtasi program BRC ini disebabkan lebih berorientasi pada pencapaian target bisnis dan cenderung mengabaikan pembenahan kelemahan struktural kelembagaan antara lain sumber daya manusia (SDM), internal governance dan infrastruktur. Sebagai dampaknya terjadi kenaikan NPL (kredit macet) yang signifikan pada program segmen kredir produktif sebesar 9,4 persen per Desember 2014 lalu.

"NPL BPD meningkat dari 3,82 persen menjadi 3,84 persen dan NPL Gross Produktif meningkat. Menjadi 11,7 persen per Juni 2016 ini dibandingkan Juni 2015 lalu. Level efisiensi BPD di level 75,61 persen darii 78,49 persen atau BPD lebih efisien dengan permodalan atau CAR di level 17,80 persen yang meski memadai tetapi secara nominal masih rendah dalam mendukung ekspansi bisnis, peningkatan data saing maupun buffer resiko," ungkapnya

Dipaparkan Wimran, kondisi BPD yang total mencapai 26 ini nominal modalnya masih rendah dimana masih ada 8 BPD dalam kategori BUKU I atau modal inti kurang dari Rp 1 triliun. Selain itu, kapabilitas pengembangan usaha yang terbatas dan rentan terhadap persaingan usaha serta kegiatan usaha terbatas sesuai BUKU-nya. Perkembangan usaha BPD menurun tercermin dari menurunnya total aset 1,61 persen dan DPK 7,10 persen per Juni 2016 (yoy).

"Kredit terus tumbuh sebesar 9,27 persen namun kontribusi terhadap perekonomian daerag masih terbatas. Hal ini dapat dilihat dari porsi kredit produktif yang kecil 29,05 persen dan sebagian besar kredit masih konsumtif kepada PNS," tandasnya. (Ira)

 

BPD

BERITA REKOMENDASI