BPJS TK Ajak Investor Manfaatkan Pasar Modal

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kondisi ekonomi global saat ini kurang menguntungkan bagi emerging markets, di antaranya seperti perang dagang antara Amerika dengan Tiongkok, sedikit banyak memiliki dampak terhadap stabilitas ekonomi di beberapa negara, khususnya negara-negara berkembang. 

Indonesia, menurut Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan (BPJS TK) Amran Nasution, salah satu yang terdampak imbas sentimen global yang cenderung negatif, didukung dengan faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi, seperti neraca impor yang lebih tinggi.  "Kondisi itu ikut menyebabkan nilai rupiah turun terhadap dolar Amerika dan turut menyeret pasar saham di Indonesia, sehingga lesu akhir-akhir ini," jelasnya di Jakarta, Jumat (7/9/2028).

Meski demikian, imbuhnya, investasi yang lesu ini dipandang BPJS Ketenagakerjaan sebagai momentum yang baik untuk membeli saham. Bahkan, Amran mamandang bahwa kondisi pasar saat ini layaknya dua sisi mata uang yang berbeda, tergantung bagaimana kita sebagai investor menyikapinya. 

“Kondisi pasar yang sedang lesu saat ini dipengaruhi oleh banyaknya investor yang keluar dari bursa saham nasional, namun kami justru melihat ini sebagai peluang yang baik,” tutur Amran. Ia menuturkan begitu karena kondisi fundamental Indonesia masih sangat baik, terlihat dari pertumbuhan ekonomi mencapai 5,27%, inflasi masih terjaga di kisaran 3,2%, cadangan devisa masih aman di USD118 miliar dan peringkat surat utang negara dikategorikan Investment Grade. (Sim)

“Momen seperti ini bisa dimanfaatkan untuk membeli barang bagus dengan harga yang murah. Tentunya dengan memastikan terlebih dahulu kondisi fundamental emiten,” ujar Amran.

Terhitung bulan Juli 2018, BPJS Ketenagakerjaan mencatatkan kinerja investasi cukup baik, dengan dana kelolaan mencapai Rp333 triliun dan peningkatan hasil investasi sebesar 13,8% hingga mencapai Rp17 triliun. Adapun aset alokasi investasi dari BPJS Ketenagakerjaan antara lain 62% penempatan pada surat utang, 18,5% penempatan di saham, 8,5% pada deposito, 10% pada Reksadana dan 1% pada Investasi Langsung. (Ful)

BERITA REKOMENDASI