BPK Diminta Audit Kerugian Negara Pada Rekap Bank Permata

JAKARTA.KRJOGJA.com – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta melakukan audit investigasi terhadap dugaan kerugian negara dalam rekap bond Bank Permata senilai Rp 11,9 triliun. Dana sebesar itu dikucurkan Pemerintah pada merger lima bank menjadi Bank Permata.

"Saya berharap BPK dapat melakukan audit investiagsi terhadap rekap bond senilai Rp 11,9 Triliun yang dikucurkan Pemerintah pada merger lima bank  Menjadi Bank Permata," ujar mantan Presiden Direktur PT Bank Bali, Rudy Ramli di Gedung BPK Jakarta, Senin (22/07/2019).

Rudy Ramli mendatangi BPK untuk melaporkan adanya dugaan kerugiaan negara pada kasus Bank Permata yang menelan uang negara melalui rekap bond senilai Rp 11,9 Triliun. "Sejumlah data yang bisa dijadikan bahan audit investigasi sudah saya sampaikan kepada BPK," jelasnya.

Kehadiran Rudy diterima Rizal Djalil,  salah satu anggota BPK bersama tim auditor utama dan staf. Dalam pertemuan itu,  Rizal Djalil mempersilahkan Rudy menyampaikan persoalan dugaan kerugiaan negara dalam proses pengalihan dan penjualan saham Bank Permata. 

Menurut Rudy,  negara diduga mengalami kerugian saat merekap Bank Bali dan empat bank lainnya menjadi PT Bank Permata Tbk senilai Rp 11,9 Triliun. Tidak lama setelah direkap, PT Bank Permata dijual oleh BPPN kepada Standard Chartered Bank (SCB), hanya senilai Rp 2,7 Triliun. 

Rudy menilai, ada indikasi kerugiaan negara dalam proses rekapitalisasi, merger dan pelepasan saham PT Bank Permata Tbk. "Inilah yang saya maksud terjadi kerugiaan negara yang disebabkan konspirasi pejabat-pejabat BPPN dan SCB. Dan BPK bisa melakukan proses audit ini," tegasnya.

Upaya Rudy mendatangi BPK merupakan kelanjutan dalam mencari keadilan. Sebelumnya Rudy sudah mendatangi KPK, meminta agar melakukan investigasi khusus atas adanya indikasi proses transaksi pengambil alihan saham Bank Permata oleh SCB, yang diduga cacat hukum pada tahun 2004. 

Menurut Rudy, seharusnya negara tidak akan mengalami kerugian triliunan rupiah dalam upayanya untuk menyelamatkan Bank Bali. “Karena pada dasarnya Bank Bali sehat, terbukti dapat bertahan dari krisis 1997-1998. Dan keuangannya sangat likuid,” katanya.

Sebelumnya, saat mendatangi KPK, Rudy telah menyampaikan satu bukti  baru untuk memulai memeriksa kasus ini.  Bukti tersebut berupa laporan keuangan SCB tahun 2006, dimana terungkap ada  satu note atau catatan tentang kepemilikan SCB di Bank Permata, yaitu There Are No Capital Commitment Related to The Groups Investment in Permata.

Menurut Rudy, kuat dugaan SCB membeli Bank Permata tanpa modal sendiri, tetapi menggunakan modal pihak lain. "Disinilah SCB wajib menjelaskan dengan menyertakan dokumen pendukung, apa maksud dari kalimat  No Capital Commitment yang tertuang pada annual report-nya," tegasnya.

Pengamat Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy juga menemukan kejanggalan lain dalam proses kepemilikan SCB di PT Bank Permata Tbk. Menurutnya,  jika benar Bank Permata dibeli SCB, maka Bank Permata akan mempromosikan dirinya sebagai members atau affiliated SCB. "Tapi, adakah tertulis Bank Permata sebagai member SCB?" ujarnya.

Menurut Ichsan, seperti umumnya korporasi besar jika memiliki anak usaha atau afilliated, selalu disebutkan dengan tulisan member atau affiliated perusahaan induknya. Sebagai contoh, PT Bank Ekonomi Tbk merupakan member HSCB Group, atau PT Bank International Indonesia (BII) members Maybank. (Imd).

 

BERITA REKOMENDASI