Covid-19 Picu Gejolak di Pasar Modal Global

JAKARTA, KRJOGJA.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Wimboh Santoso mengatakan, dampak pandemi Covid-19 sektor keuangan membuat fluktuasi dan gejolak pasar modal global di masa awal pandemi membuat ketahanan pasar modal kita benar-benar diuji. Imbal hasil obligasi meningkat, indeks harga saham gabungan juga bergerak sangat fluktuatif dan pernah mencapai level terendahnya di 3.937 pada 24 Maret atau terkontraksi -37 persen dari posisi akhir tahun lalu.

Serangkaikan kebijakan pre-emptive telah dikeluarkan OJK dengan bersinergi dengan SRO sejak awal Maret 2020 untuk memitigasi terjadinya pemburukan akibat tingginya sentimen negatif yang ditimbulkan oleh pandemi:, pelarangan short selling, buyback saham tanpa RUPS dalam kondisi pasar berfluktuasi signifikan, perubahan batasan auto rejection menjadi asymmetric, dan perubahan batasan trading halt serta penyesuaian sesi perdagangan di pre-opening.

“Ini merupakan paket kebijakan yang kami tempuh untuk meredam volatilitas. Langkah ini kami lakukan dengan cepat dan terukur dalam merespon dinamika yang terjadi,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Wimboh Santoso, pada peringatan 43 tahun diaktifkannya Pasar Modal, secara virtual, di Jakarta, Senin (10/8).

Selain itu, berbagai kebijakan relaksasi kami keluarkan agar industri pasar modal dapat tetap bertahan di masa sulit ini, diantaranya relaksasi pemenuhan prinsip keterbukaan, relaksasi kewajiban penyampaian pelaporan, serta stimulus bagi industri pengelolaan investasi.

Dikatakan OJK bersinergi dengan Pemerintah maupun BI untuk menggerakkan roda perekonomian di sektor riil diantaranya melalui kebijakan restrukturisasi, penempatan dana, penjaminan kredit dan subsidi bunga. Sehingga, kini dapat kita rasakan dampaknya di pasar modal, volatilitas mereda dengan IHSG kembali bergerak stabil di level di atas 5.000 (IHSG Jumat 7 Agustus ditutup 5.143,89, menurun 0,11 persen mtd dan tumbuh negatif 18,34 peraen) , Capital outflow pun terpantau menurun, dan pasar obligasi mulai kembali menguat (yield menurun 36,6 persen.

Ditegah kondisi perekonomian yang berat akibat dari dampak pandemi Covid-19, fokus utama kita adalah recovery, dan kami menyadari stabilitas sektor keuangan memegang peranan kunci untuk mensukseskan proses pemulihan ekonomi yang solid dan cepat. Karena itu, pengaturan, kebijakan, dan sistem yang memberikan kemudahan bagi pasar modal semata-mata dibuat untuk memperkuat stabilitas Pasar Modal sehingga kita dapat melewati masa pandemi dengan baik dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat internasional. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI