Dorong Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

YOGYA (KRjogja.com) – Gini Ratio di DIY pada Maret 2012 tercatat sebesar 0,434 dan cenderung berfluktuasi hingga September 2014 mencapai 0,435. Pada Maret 2016 Gini Ratio tercatat sebesar 0,420 menurun Maret 2015 sebesar 0,433 dan tidak mengalami perubahan jika dibandingkan September 2015. Kondisi ini menunjukkan pemerataan pengeluaran di DIY mengalami perbaikan selama periode Maret 2015 hingga Maret 2016.

"Meskipun demikian Gini Ratio DIY selalu di atas nilai Gini Ratio nasional, yang pada Maret 2016 misalnya hanya sekitar 0,397," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Bambang Kristianto, Minggu (18/9/2016).  

Bambang menjelaskan dilihat daerah tempat tinggal, ketimpangan tampak lebih jelas di daerah perkotaan yang ditunjukkan dengan angka Gini Ratio yang lebih tinggi dibanding di perdesaan. Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2016 sebesar 0,423 mengalami penurunan sebesar 0,02 poin dibanding Gini Ratio Maret 2015 yang sebesar 0,443 dan menurun sebesar 0,005 poin dari Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,428.

"Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2016 adalah sebesar 0,334 relatif tetap dibanding Gini Ratio Maret 2015 yang juga sebesar 0,334 serta meningkat 0,002 poin dibanding Gini Ratio September 2015 yang sebesar 0,332," imbuhnya.

Lebih lanjut, Bambang menuturkan persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di DIY sebesar 15,08 persen pada Maret 2016 atau kategori ketimpangan sedang. Menurun jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2015 sebesar 15,65 persen dan September 2015. sebesar 16,69 persen. Distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2016 sebesar 14,29 persen tercatat lebih rendah dibanding kondisi September 2015 sebesar 16,20 persen dan Maret 2015 sebesar 14,91 persen.

"Sementara di daerah perdesaan, sebesar 19,23 persen, angkanya menurun baik dibanding kondisi Maret 2015 sebesar 20,01 persen dan September 2015 sebesar 21,03 persen," kata Bambang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Arief Budi Santoso  menyampaikan kesenjangannya ekonomi yang dapat dilihat dari ketimpangan pengeluaran tergolong masih cukup tinggi karena menyangkut masalah kemiskinan di DIY.  Pertumbuhan ekonomi di DIY diarahkan menanggulangi kemiskinan. (Ira)

BERITA REKOMENDASI