Ekonomi Global tak Alami Resesi, Ini Alasannya

KUTA, KRJOGJA.com –  Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, membantah kalau ekonomi dunia mengalami krisis. Alasannya saat ini pertumbuhan ekonomi dunia masih tumbuh positif namun pertumbuhannya hanya melambat. Sedangkan  pengertian krisis  yakni bila pertumbuhan ekonomi dalam   dua kuartal  berturut turut mengalami negatif. 

“Kalau terjadi krisis ekonomi,   bila dalam 2 kuartal  berturut-tutut pertubuhan ekonomi mengalami negatif, tetapi sekarang kan pertumbuhan ekonomi masih positif dan hanya melambat. Dan ini hampir semua negara mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat terkena dampak dari perang dagang Amerika Serikan dengan Tiongkok, “ kata Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro pada acara Pelatihan Wartawan yang diselanggarakan Bank Indonesia ( BI) di Kuta, Bali Jumat 27-29 September 2019.

Dikatakan, perlambatan ekonomi terjadi hampir semua negara di dunia. Perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat imbas terjadinya perang dangan antar Amerika Serikat dengan Tiongkok.
Namun untuk Indonesia, menurut Asmo, masih sangat jauh dari krisis ekonomi. Pasalnya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bagus sekitar 5 persen walaupun pencapaiannya belum sesuai harapan.

Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada level 5 persen, Malaysia 5,2 persen, Thailand 3,2 persen, Indonesia 7 persen dan Turki 4,9 persen sedangkan rata- rata pertumbuhan ekonomi global sekitar 1 ,7 persen, “ Pertumbuhan ekonomi Indonesian bagus, dan investasi tetap masuk ke Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko mengatakan,  BI memprediksi pertumbuhan ekonomi 2019 tidak lebih dari 5,2 persen. Atau berada di titik tengah dari yang ditargetkan 5,1-5,4 persen. "Dengan adanya situasi dan kondisi global ini, pertumbuhan Indonesia turut terpengaruh global yang kurang menguntungkan. Pertumbuhan ekonomi kita tidak lebih dari 5,2 persen. Atau berada di titik tengah dari yang ditargetkan 5,1-5,4 persen. Walaupun bagus, tapi nggak strong,” kata Onny.
mengatakan, tren pertumbuhan ekonomi global cenderung mengalami penurunan. Hal ini menghambat pertumbuhan perdagangan dunia.

Dijelaskan,  dengan 5,2 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan berarti perekonomian Indonesia tidak kuat. Namun pendorongnya yang belum kuat seperti sektor investasi yang menurun dan sektor konsumsi masih rendah.

“Pertumbuhan ekonomi kita 5 persen, bukan tidak kuat tetapi pendorongnya yang belum seperti konsumsi masih di 5 persen  dan investasi menurun. Faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi itu tidak kuat," tegasnya.

Dijelaskan, pertumbuhan investasi di triwulan II-2019 diperkirakan belum kuat, khususnya investasi non bangunan.  Sementara investasi bangunan cukup baik karena didorong oleh pembangunan proyek strategis nasional.

Ditegaskan, yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi adalah sektor pariwisata. Apalagi saat ini banyak BUMN yang mau berinvestasi di sektor pariwisata karena di sektor ini yang ditonjolkan adalah 3 A yakni akses, amenitas, atraksi.

“Pariwisata itu bukan hanya alam saja tetapi 3A, saya bersyukur sudah bayak BUMN yang mau berinvestasi di pariwisata, karena sektor ini yang diharapkan untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi kita,” tegasnya.

Dijelaskan rata-rata belanja wisata masyarakat Indonesia per tahun mencapai Rp 19,5 triliun dengan pertumbuhan sebesar 5,08  persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa potensi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar.

"Daya tahan domestik demand bisa ditopang dengan adanya sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti pariwisata," ujarnya. ( Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI