HSBC Mendukung Komitmen Pemulihan Ekonomi ASEAN

Dia menjelaskan HSBC mendukung penghapusan berkelanjutan terhadap hambatan non-tarif (non-tarrif barriers) yang menjamur di Asia Tenggara, serta adopsi mekanisme dan perjanjian dagang yang akan memungkinkan arus perdagangan yang lebih bebas. Hal ini termasuk penghapusan hambatan non-tarif (non-tarrif barriers) seperti
meningkatkan batas minimum barang yang wajib memiliki Surat Keterangan  Asal (mengurangi birokrasi bagi bisnis yang sudah di bawah tekanan);  dan membuat proses bea cukai otomatis. Lalu, penerapan ASEAN Single Window dan secara resmi menandatangani dan meratifikasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang telah disepakati yang mencakup 30% populasi dunia dan 29% PDB dunia (termasuk semua negara ASEAN)

“COVID-19 telah membawa sektor e-commerce digital ke dalam situasi  krisis. Jika kawasan tidak menyepakati standar bersama mengenai  manajemen data lintas-batas dan perdagangan digital, potensi  perkembangan ekonomi digital di ASEAN akan berkurang. Supaya bisa bertumbuh, kerangka kerja yang telah disepakati, seperti ‘ASEAN Digital Integration Framework Action Plan’ dan ‘ASEAN Framework  on Digital Data Governance’ harus diterapkan untuk menyelaraskan  aturan dari tiap negara,” tandasnya.

Dia menambahkan hal ini penting bagi Indonesia, terutama untuk sektor UMKM yang berkontribusi sebesar 60 persen terhadap PDB di tahun 20183. “Kami menyadari bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia, dan konektivitas digital penting untuk ekspansi bisnis di masa depan,” ujar Lobner. (*)

BERITA REKOMENDASI