Indonesia Terus Dianggap Negara Berkembang, Begini Penjelasan Sri Mulyani

SLEMAN, KRJOGJA.com – Predikat negara berkembang masih terpatri bagi Indonesia saat ini. Namun, pertanyaan kemudian muncul mengapa predikat tersebut masih berada di Indonesia meski sudah berupaya tumbuh di usia 73 tahun? 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pun memberikan pandangan terkait predikat tersebut saat mengisi kuliah umum di Fakultas Ekonomika Bisnis (FEB) UGM Selasa (25/9/2018). Sri Mulyani mengatakan di negara maju seperti Amerika Serikat di mana ia sempat beberapa tahun tinggal, aset negara baik berupa gedung, tanah ataupun lainnya tidak dibiarkan diam begitu saja. 

“Saya berpikir secara kualitas, manusia kita tidak kalah, lalu saya mencari tahu lebih dalam perbedaan yang ada. Ternyata di negara maju itu asetnya yang kerja keras, orangnya kerja biasa saja. Kita kebalikannya orangnya kerja keras asetnya diam saja, makannya disebut sebagai negara berkembang,” ungkapnya. 

Sri Mulyani menyebutkan di negara maju seperti Amerika tidak ada Barang Milik Negara (BMN) yang dibiarkan begitu saja tanpa menghasilkan pendapatan untuk negara. Salah satu ruang di sekitar Gedung Putih misalnya, menurut Sri Mulyani sengaja disewakan untuk instansi yang memberikan profit bagi negara. 

“Barang nganggur, uang nganggur, aset nganggur itu tidak ada di Amerika. Kita kerja terus tak pernah liburan, ini karena aset kita tidur. Kita buang percuma BMN yang tidak kerja, ini yang harus segera diubah. BMN harus menjadi income atau paling tidak bermanfaat bagi negara,” sambung Sri Mulyani. 

Pemanfaatan BMN inilah yang kini menurut Sri Mulyani sedang dikejar pemerintahan di bawah Joko Widodo. Terlebih, pendapatan negara dari BMN yang jumlah asetnya mencapai Rp 4000 trilyun lebih terbilang sangat kecil hanya sekitar Rp 2 trilyun. 

“Total kekayaan negara kita, 38 persen diantaranya adalah BMN dan paling besar adalah tanah. Ini yang harus dimaksimalkan dan ini tugas Kemenkeu untuk menciptakan nilai tambah atau income berdasar PP nomor 27 tahun 2014 tentang pengelolaan BMN,” ungkapnya lagi. 

Pengelolaan BMN sendiri menjadi salah satu favorit Sri Mulyani dalam mengelola keuangan negara. Hal tersebut dikarenakan BMN mencerminkan peradaban suatu negara. 

“BMN mencerminkan perencanaan pembangunan yang baik, apakah bangsa menghargai apa yang telah dibangun. Peradaban antar generasi, kalau saya mengeluarkan Rupiah untuk membangun itu nanti menjadi kebanggaan anak cucu nanti. Ini yang paling penting,” tandasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI