Inilah, 5 Kebijakan OJK di Tahun 2020

JAKARTA, KRJOGJA.com – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Wimboh Santoso mengatakan pada tahun 2020, ada Wimboh  lima kebijakan strategis OJK selama tahun ini. Antara lain, peningkatan skala ekonomi industri keuangan Peningkatan nominal modal minimum secara bertahap. 
 
Lalu, mendorong akselerasi konsolidasi dengan kebijakan insentif dan disentif termasuk exit policy-nya. Mempercepat transformasi industri keuangan non-bank. Memperketat perizinan kegiatan usaha di perusahaan efek berdasarkan tingkat permodalannya. Kebijakan strategis kedua adalah mempersempit regulatory & supervisory gap antarsektor jasa keuangan. Melanjutkan harmonisasi di seluruh sektor jasa keuangan dari sisi pengaturan dan pengawasan, maupun enforcement terutama di Industri Keuangan Non Bank Meregistrasi market maker di bursa saham dengan kapitalisasi pasar kecil untuk meminimalkan potensi goreng menggoreng saham.
 
"OJK juga Mengkaji adopsi konsep investment bank. Kebijakan lain yakni Digitalisasi produk dan layanan keuangan serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung kepatuhan regulasi. Ini untuk membangun ekosistem keuangan digital di industri jasa keuangan dan start-up fintech."
 
 
Wimboh mengatakan, kebijakan strategis 2020 itu merupakan turunan dari Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia (MPSJKI) periode 2020 – 2024 yang fokus pada lima area yaitu:  Penguatan ketahanan dan daya saing dengan mengakselerasi konsolidasi dan penguatan permodalan lembaga jasa keuangan. Akselerasi transformasi digital. Percepatan pengembangan ekosistem sektor jasa keuangan. Perluasan literasi keuangan serta integritas pasar dan lembaga jasa keuangan. Percepatan pengawasan berbasis teknologi.
 
Kebijakan strategis dan MPSJKI ini diharapkan dapat menjadikan sektor jasa keuangan semakin bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Stabilitas terjaga di 2019
 
Di tahun 2019, di tengah dinamika perekonomian global OJK mencatat stabilitas sektor jasa keuangan terjaga dengan baik, didukung tingkat permodalan dan likuditas yang memadai serta profil risiko yang terjaga.
 
"Fungsi intermediasi lembaga jasa keuangan mengalami moderasi meski tetap sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik. Kredit perbankan 2019 tumbuh di 6,08 persen seiring dengan lemahnya permintaan komoditas global." (Lmg)
OJK

BERITA REKOMENDASI