BTN Terapkan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan 71, Apa Maksudnya?

JAKARTA, KRJOGJA.com –  Bank Tabungan Negara (BTN ) optimistis bisnisnya pada tahun 2020  on track dengan  capaian laba hingga Rp 3 triliun.

“Landasan kerja kami pada tahun 2020 adalah menetapkan arah kebijakan  yaitu fokus pada perbaikan kualitas bisnis,” kata Direktur Utama BTN Pahala Nugraha Mansury usai RUPST  BTN di Jakarta.

Guna memperbaiki kualitas bisnis, BTN memasang  pondasi yang kuat khususnya dalam penerapan Pedoman Standard Akuntasi 71 (PSAK 71)  dengan meningkatkan  Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), sehingga Perseroan memiliki pencadangan yang lebih kuat dalam mengantisipasi potensi kerugian atas aset keuangan yang dimiliki.

 Per Februari 2020, coverage ratio Bank BTN mencapai lebih dari 100 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 43,42 persen.

“Adanya PSAK 71 juga akan mendorong perseroan untuk lebih prudent dalam pemberian kredit, sehingga kualitas kredit akan menjadi lebih baik,” kata Pahala.

Peningkatan CKPN menggerus Laba tahun 2019, sehingga dalam RUPST ditetapkan laba  bersih sebesar Rp 209 miliar yang dialokasikan untuk dividen sebesar  10 persen dari laba  bersih total atau senilai Rp 20,92 miliar. Dengan demikian dividen per lembar saham sebesar Rp1,98 sementara laba per saham sebesar Rp19,76.

 Sementara dari jumlah laba yang dialokasikan untuk dividen, yang akan disetor ke pemegang saham mayoritas atau Pemerintah adalah sebesar Rp 12,55 miliar. Sementara 90 persen dari sisa laba bersih akan digunakan sebagai saldo laba ditahan.

Pada tahun 2020,  beberapa target kinerja yang akan dicapai, yaitu aset ditargetkan meningkat 6-8 persen, sementara kredit dan pembiayaan tetap tumbuh sebesar 8-10 persen dengan penopang utama adalah kredit pemilikan rumah atau KPR.

 “Permintaan rumah masih cukup tinggi, dan hal ini didukung pemerintah yang akan menambah subsidi ke sektor perumahan dalam bentuk Subsidi Selisih Bunga atau SSB, Bank BTN juga akan mengoptimalkan KPR Non subsidi khususnya segmen milenial dan urban dan mengembangkan personal loan dengan penjualan produk secara bundling antara kredit dan tabungan seperti contohnya BTN Solusi yang baru kami rilis,” kata Pahala.

Pahala menyambut baik inisiatif Pemerintah dalam memberikan stimulus khususnya pada sektor perumahan di tengah perlambatan ekonomi nasional yang terdampak virus Covid-19 di Indonesia. “Ini merupakan dukungan positif Pemerintah terhadap sektor perumahan yang berdampak  pada 172 industri terkait pembangunan perumahan, semoga ini menjadi angin segar bagi industri pembiayaan perumahan sekaligus mendorong semangat para pelaku industri properti untuk membangun rumah dalam rangka mendukung Program Sejuta Rumah,” tegas Pahala

Sedangkan   Dana Pihak Ketiga (DPK) ditargetkan tumbuh 13-15 persen didorong  kenaikan porsi dana murah dari giro dan tabungan. Sedangkan rasio kredit bermasalah,atau Non Performing Loan ditargetkan membaik di kisaran 3,5 persen dengan memperbaiki proses inisiasi kredit dan collection management system dan optimalisasi situs lelang rumah yaitu www.rumahmurahbtn.co.id.

Dijelaskan, walau laba tahun lalu turun tajam, tahun ini kami optimistis laba Bank Tabungan bisa menembus Rp2,5 triliun- Rp 3 triliun  dengan menurunkan cost of fund atau biaya dana menjadi 5,27 persen dan mendorong fee based income  tumbuh di atas 17 persen dibandingkan tahun lalu, kita juga akan mengupayakan penurunan biaya umum dan sebagainya ,” kata Pahala.( Lmg)

BERITA REKOMENDASI