Kredit Bermasalah Bank Masih Terjaga

MEDAN, KRJOGJA.com – Bank Indonesia (BI) menyatakan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) perbankan terjaga di angka 2,74% pada Agustus 2018 dibandingkan dengan 2,73% pada Juli 2018. Risiko kredit bermasalah di sebagian besar wilayah Indonesia terjaga pada level yang sehat, yakni tidak melebihi 5%. 

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Retno Ponco Windarti mengatakan, sektor konstruksi, perdagangan, dan pertambangan merupakan sektor dengan rasio NPL Gross tertinggi di mana masing-masing sebesar 4,29%, 4,20%, dan 4,11%.

"Sementara secara year to date (ytd), nominal NPL, terutama bersumber dan sektor lain lain (konsumsi rumah tangga) sebesar 4%, perdagangan sebesar 3%, jasa dunia usaha sebesar 2,5%, dan konstruksi sebesar 2,8%,” kata Retno, saat menjadi pembicara Seminar Nasional Peran Strategis Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan dalam Memelihara Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia di Medan.

Berdasarkan wilayah, per Agustus 2018 NPL yang masih tercatat cukup tinggi berada di wilayah Kalimantan Timur sebesar 5,7%. “Hal tersebut sejalan dengan peningkatan risiko kredit akibat menurunnya kinerja di sektor pertambangan,” ungkap dia. Selanjutnya di Kepulauan Riau (Kepri) sebesar 3,8%, Jambi sebesar 3,2%, Papua sebesar 3,9%, dan Sulawesi Selatan sebesar 4,8%. Sementara rasio NPL di DKI Jakarta masih berada di angka 2,1%.

Direktur Eksekutif Klaim dan Resolusi Bank LPS Ferdinand Dwikoraja Purba menilai rasio NPL yang berada di kisaran 2,7% menunjukkan bahwa NPL perbankan masih terkendali. "NPL sebesar 2,7% masih terkendali, diikuti kualitas tata kelola regulasi dan pengawasan sektor perbankan yang prudent," imbuh Ferdinand.

Dia pun mengungkapkan industri perbankan Indonesia menjadi salah satu industri perbankan paling kuat dan menguntungkan jika dibandingkan negara lain, bukan hanya di Asia tetapi juga di global. Namun demikian, industri perbankan di Indonesia masih memiliki banyak tantangan, salah satunya dalam pengelolaan likuiditas di tengah persaingan mengejar pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). “Baik antar bank maupun kelompok bank menunjukkan persaingan dan itu sangat terlihat,” ungkapnya. (*)

BERITA REKOMENDASI