Kredit UKM BCA Naik Tipis, Ini Sebabnya

JAKARTA, KRJOGJA.com – Dirut Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaadmadja mengakui, hingga September 2017 permintaan kredit ini sangat rendah hal ini tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara di dunia. 

Menurut Jahja kondisi ini karena banyak industri yang terganggu karena  daya beli masyarakat yang beralih ke on line. Barang yang dijual secara on line itu umumnya 90 lebih  persen barangnya impor sedangkan sisanya di produksi di dalam negeri.

"Nilai kredit rendah karena banyak industri yang terganggu karena  daya beli masyarakat yang beralih ke on line. Sementara barang yang dijual secara  on line itu umumnya 90 lebih  persen barangnya impor sedangkan sisanya di produksi di dalam negeri," kata Dirut Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaadmadja di Jakarta, Kamis (26/10).

Dikatakan, tingginya barang impor yang dijual secara on line ini karena kualitasnya lebih bagus dan harganya jauh lebih rumah bila dibandingkan dengan hasil produksi industri dalam negeri.

"Jadi lebih baik mengimpor dari pada memproduksinya. Bahkan dengan berjualan secara on line toko toko juga tidak perlu, pegawai juga yang butuh banyak sehinga cost yang dikeluarkan akan jauhg lebih murah," tegasnya.

Jahja mengatakan, akibat situasi seperti ini yang paling terdampak adalah pedagang-pedagang kecil dan ritel dan UKM yang paling  terkena dampaknya, sehingga tidak dapat dipungkiri hingga bulan September 2017 BCA hanya berhasil menyalurkan kredit ke UKM sekitar Rp 150 triliun atau meningkat hanya 2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 146,5 triliun.

Apalagi, tambah Jahja dari 120 bank di Indonesia, semuanya mengucurkan kredit ke sektor UKM, sehingga terjadi perebutan di segmen ini. "Persaingan. Di sektor UKM ini sangat berat, karena 120 bank masuk ke segmen ini, sementara. Underlaying belum tentu menjanjikan," tegasnya. 

Jahja menambahkan hingga September 2017, BCA berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 440 triliun atau meningkat sebesar 13,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 396,2 triliun. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI