LPS Turunkan Bunga Penjaminan, Ini Alasannya

JAKARTA, KRJOGJA.com –Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menurunkan tingkat suku bunga penjaminan simpanan di perbankan baik untuk bank umum dalam bentuk rupiah dan juga valas serta bank perkreditan rakyat (BPR) sebesar 25 basis poin (bsp).

Sehingga tingkat suku bunga penjaminan untuk bank umum  dalam bentuk rupiah menjadi 6,5 persen, dari sebelumnya 6,75 persen. BSedangkan untuk valas tingkat suku bunga penjaminan turun 25 bsp dari 2,25 persen menjadi 2 persen dan untuk tingkat suku bunga penjaminan di BPR turun 25 bsp dari 9,25 persen menjadi 9 persen.

“ LPS menurunkan tingkat bunga penjaminan LPS untuk simpanan rupiah dan valuta asing pada bank umum serta rupiah di BPR masing-masing sebesar 25 bps.,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah di Jakarta , Selasa (24/9).

Dikatakan, penurunan tingkat bunga penjaminan tersebut berlaku sejak tanggal 26 September 2019 sampai dengan 24 Januari 2020.

Dijelaskan, kebijakan penurunan tingkat nunga penjaminan simpanan didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain: adanya penurunan bertahap pada suku bunga simpanan perbankan pasca penurunan suku bunga kebijakan moneter, membaiknya prospek dan risiko likuiditas perbankan di tengah tren perbaikan pertumbuhan simpanan, dan stabilnya kondisi sistem keuangan sejalan dengan meredanya volatilitas di pasar keuangan.

Dijelaskan, pertimbangan lain bagi LPS dalam menurunkan tingkat suku bunga penjaminan antara lain, karena perkembangan suku bunga pasar simpanan (SBP) 62 bank yang menjadi rujukan LPS terpantau mengalami penurunan. SBP Rupiah terpantau turun 17 bps menjadi 5,69 persen pada periode observasi (21 Agustus 2019 hingga 17 September 2019). 
Sementara untuk suku bunga penjaminan valuta asing dari 19 bank  yang m3njadi rujukan sepanjang periode evaluasi (9 Agustus 2019 hingga 17 September 2019) tercatat juga mengalami penurunan sebesar 5 bps menjadi 1,23 persen.

Sementara tingkat suku bunga acuan Baank Indonesia atau BI repo rate  (BI 7DDR) telah turun hingga sebesar 75 bps dan The Fed sebesar 50 bps sepanjang Juli-September 2019. Sehingga perbankan secara bertahap mulai merespon dengan melakukan penyesuaian pada suku bunga simpanan khususnya time deposit. Di sisi lain komponen distance margin yang merupakan respresentasi intensitas persaingan antar bank menunjukkan tren stabil. 
“Bahkan kondisi ini diperkirakan akan berlanjut dan mempengaruhi kebijakan tingkat bunga penjaminan kedepan,” tegasnya.

Halim juga mengatakan, masih ada ruang penurunan lanjutan suku bunga simpanan perbankan cukup terbuka mengingat proses penyesuaian terhadap BI 7DRR masih berlangsung. Membaiknya pertumbuhan DPK yang diikuti dengan penyesuaian pada pertumbuhan kredit mampu mengurangi gap (selisih) pertumbuhan sehingga menjadikan kondisi likuiditas perbankan relatif membaik.

Dipaparkan, berdasarkan data OJK, LDR perbankan cenderung membaik dari 94,28 persen pada Juni 2019 menjadi 93,81 persen pada Juli 2019. Pertumbuhan DPK bank umum pada Juli 2019 membaik menjadi 8,01 persen  dari 7,4 persen pada bulan sebelumnya. 

Sedangkan untuk pertumbuhan kredit berada di level di posisi 9,91 persen pada Juni 2019 sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 9,58 persen. Hingga akhir tahun 2019 proyeksi pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing adalah 11,7 persen dan 7,4 persen.

Sedangkan untuk suku bunga Pasar Uang Antar Bank (JIBOR) rupiah rata-rata pada periode 21 Agustus – 17 September 2019 terpantau bergerak turun dibandingkan pada periode observasi sebelumnya (12 Juli – 8 Agustus 2019) sebesar 34 bps. Pada periode pengamatan yang sama, rata-rata JIBOR 1M terpantau turun 29 bps sementara JIBOR 3M turun 31 bps.
Untuk jumlah rekening yang dijamin LPS adalah sebesar 99,91 persen dari total rekening atau setara dengan  292.686.471 rekening. Sementara secara nominal jumlah simpanan yang dijamin mencapai 53,13 persen dari total simpanan atau setara dengan Rp  2.585,5 triliun.

Sedangkan kewajiban BI kepada pemerintah pusat (saldo simpanan pemerintah di BI) hingga akhir Agustus terpantau naik dari Rp 160,96 triliun pada Juli 2019 menjadi Rp 193,87 triliun. Meski cenderung naik namun sesuai pola siklusnya pemerintah akan melakukan eskpansi likuiditas ke sistem keuangan melalui belanja fiskal hingga akhir tahun, sehingga hal ini dapat membantu likuiditas perbankan.
Untuk risiko likuiditas perbankan dalam 3 bulan kedepan (Sep – Nov 2019) diperkirakan cenderung stabil. Faktor risiko sisi bawah (positif)  yang mempengaruhi likuiditas antara lain peluang penurunan suku bunga bank sentral AS sebesar 25 bps hingga akhir tahun berpeluang diikuti oleh pelonggaran kembali BI7DRR, kebijakan operasi moneter dan makro prudensial. ( Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI