Maybank Indonesia Kantongi Laba Rp 757 Miliar

JAKARTA, KRJOGJA.com – PT Bank Maybank Indonesia Tbk mengundulangpendapatan operasional sebelum provisi naik 2,1% menjadi Rp2,0 triliun untuk semester pertama yang berakhir 30 Juni 2019 dibandingkan dengan Rp1,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu.  Pertumbuhan Pendapatan Operasional ini terutama didukung peningkatan fee based income, manajemen pengelolaan biaya yang berkelanjutan dan kenaikan pendapatan bunga bersih sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 6,6% selama enam bulan pertama 2019.

Laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar Rp757 miliar untuk semester pertama yang berakhir 30 Juni 2019 dibandingkan dengan Rp933 miliar semester sebelumnya yang berakhir 30 Juni 2018 karena adanya peningkatan provisi sehubungan Bank menempuh langkah konservatif dalam melakukan pencadangan untuk kredit bisnis yang terdampak kondisi pasar yang terus menantang.

Bank mencatat pertumbuhan pendapatan non bunga (fee based income) sebesar 14,1% menjadi Rp1,2 triliun pada Juni 2019 dibandingkan Rp1,0 triliun pada Juni 2018 didukung fee Global Market, bancassurance, administrasi kredit, pemulihan kredit dan layanan lain yang disediakan Bank.  Pendapatan bunga bersih meningkat 2,4% menjadi Rp4,0 triliun dari Rp3,9 triliun sementara Marjin Bunga Bersih sedikit menurun yaitu sebesar 28 basis poin menjadi 4,8%.  

Hal ini disebabkan oleh surplus likuiditas karena Bank melakukan langkah proaktif untuk memastikan Bank memiliki likuiditas yang cukup untuk memitigasi risiko selama dan setelah pemilihan umum.  Bank akan meneruskan pelaksanaan pricing kredit dan pengelolaan dana secara aktif untuk dapat lebih baik memitigasi tekanan pada marjin.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, Enam bulan pertama 2019 terbukti memiliki tantangan yang sama seperti tahun lalu.  Meskipun terjadi perlambatan di beberapa bidang, core business dan fondasi tetap kokoh dan akan terus meningkatkan aset kami secara selektif untuk memastikan terjaganya kualitas aset.  
Selain melanjutkan rekalibrasi model bisnis ritel kami, perjalanan transformasi kami ke depan akan fokus pada optimalisasi teknologi untuk memberikan pengalaman nasabah yang lebih baik di seluruh touchpoints.  

Kredit meningkat sebesar 6,6% menjadi Rp135,4 triliun per 30 Juni 2019 dari Rp127,1 triliun per 30 Juni 2018.  Perbankan Global membukukan pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 25,6% menjadi Rp37,8 triliun dari Rp30,1 triliun terutama didukung kredit Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi papan atas (perusahaan top tier) untuk pembiayaan infrastruktur dan investasi.  

Kredit Community Financial Services (CFS) Non-Ritel, yang terdiri dari Mikro, Usaha Kecil & Menengah (UKM) dan Business Banking tumbuh sebesar 1,6% menjadi Rp54,6 triliun, sementara kredit CFS Ritel tercatat sebesar Rp43,0 triliun per Juni 2019.  Bank mengelola turunnya eksposur dari commercial accounts yang menyebabkan peningkatan Non-Performing Loans (NPL) dan telah secara aktif melakukan restrukturisasi. (*)

BERITA REKOMENDASI