Melebar, Defisit APBN 2019 Tembus 2,2 Persen

JAKARTA, KRJOGJA.com – Defisit anggaran pada tahun 2019 mencapai Rp 353 triliun atau 2,2 persen dari GDP, lebih tinggi dari target yang mencapai Rp 296 triliun atau 1, 8 persen dari GDP.

“Defisit anggaran tahun 2019 yang diharapkan 1,8 persen, namun karena kondisi ekonomi Indonesia yang mendapat tekanan akibat ekonomi global membuat defisit anggaran tahun 2019 mencapai Rp 353 triliun atau jauh lebih  dari yang diharapkan yakni sebesar Rp 296 triliun,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada acara APBN Kita, di Jakarta, Selasa (7/1).

Menurut Menkeu guna menutup pelebaran defisit anggaran tahun 2019, pembiayaan anggaran dilakukan peningkatan dalam batas yang terkendali serta melakukan pengendalian pengeluaran pembiayaan di tahun 2019. 

Peningkatan pembiayaan tersebut juga merupakan dampak dari perluasan fungsi pembiayaan yang tidak hanya semata-mata untuk menutup defisit tetapi juga digunakan sebagai instrumen investasi untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur, meningkatkan akses terhadap pembiayaan KUMKM dan kepemilikan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang layak huni, mendorong peningkatan ekspor, serta percepatan peningkatan kualitas SDM Indonesia. Untuk mendukung tujuan tersebut pada tahun 2019 realisasi pembiayaan investasi pemerintah sebesar Rp49,4 triliun (65,1 persen  dari target APBN tahun 2019). 

Dengan posisi realisasi defisit dan pembiayaan anggaran tahun 2019 tersebut, diperkirakan terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp 46,4 triliun, yang setelah diaudit BPK, akan dapat dimanfaatkan untuk membiayai kebutuhan APBN pada tahun-tahun berikutnya. Melalui pengelolaan realisasi APBN tahun 2019 tersebut, Pemerintah dapat menjaga pelaksanaan APBN tahun 2019 tetap sehat dan kredibel untuk mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Sri Mulyani mengaku, defisit anggaran ini melebar dari yang diinginkan, namun bila dibandingkan dengan negara lain, defisit anggaran Indonesia ini masih lebih rendah. Misalnya India defisit anggarannya mencapai -7,5 persen,  Amerika Serikat -5,6 persen, Brazil defisit -7,5 persen, Malaysia -3 persen, Vietnam mencapai -4,4 persen, Tiongkok – 6,2 persen. “Bila dibanding dengan negara lain, defisit Indonesia lebih bagus hanya melebar dari 1,8 persen yang ditargetkan menjadi 2,2 persen,” tegasnya.

Dijelaskan, peningkatan defisit terjadi karena realisasi penerimaan negara masih jauh di bawah belanja negara. Misalnya penerimaan negara baru mencapai Rp 1.957 triliun atau hanya 90,4 persen dari target di APBN 2019 yang sebesar Rp 2.165,1 triliun. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI