Optimisme Pemulihan Ekonomi DIY Masih Berlanjut Pada 2022

Editor: Ary B Prass

Miyono menyampaikan berkaca pada pandemi, sinergi dan inovasi menjadi kunci pemulihan ekonomi DIY. Berkaitan dengan itu, sebagai bagian dari ekosistem sosial-ekonomi di DIY, BI senantiasa bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam memajukan ekonomi DIY. Komitmen BI DIY tercermin dari berbagai program kolaborasi pentahelix dengan berbagai pihak selama ini.

” Tantangan utama yang perlu diwaspadai, yaitu pandemi Covid-19 yang belum usai dimana mutasi virus Covid-19 masih terus terjadi sehingga kita tidak boleh lengah. Kedua, kondisi ekonomi global masih tidak menentu yang berpotensi mendorong imported inflation. Ketiga, daya beli masyarakat perlu terus dijaga, sejalan dengan stimulus pemerintah yang mulai dikurangi pada 2022,” tuturnya.

Kepala OJK DIY Parjiman yang akrab disapa Jimmy menyampaikan kinerja industri jasa keuangan, khususnya perbankan di DIY likuiditasnya melimpah tahun ini, bahkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh  7,28 persen (yoy) di DIY per Oktober 2021. DPK mulai dikeluarkan untuk ekspansi kredit pada triwulan IV 2021, sebelumnya masih banyak perbankan yang menahan DPK-nya triwulan III 2021. Sehingga penyaluran kredit di DIY dilaporkan mengalami peningkatan tumbuh 5,4 persen (yoy) per Oktober 2021.

” Kami memperkirakan kredit secara nasional akan tumbuh sekitar 6 persen pada 2021. Dari rencana bisnis bank 2022, optimis akan tumbuh lebih dari 8 persen. Likuiditasnya melimpah karena dilihat dari LDR-nya, jadi DPK yang disalurkan ke kredit berkisar 61 persen dan NPL-nya atau kualitas kreditnya cenderung meningkat menjadi 3,23 persen di DIY pada tahun ini,” tuturnya.

Jimmy menyatakan hal tersebut menandakan kondisi kredit belum begitu membaik seiring masa pandemi Covid-19 yang diperkirakan juga belum berakhir pada 2022. Untuk itu, OJK masih memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit sampai Maret 2023. Hal ini merupakan kesempatan bagi industri jasa keuangan dan sektor riil menata kembali likuiditas yang dimiliki guna memberikan kesempatan agar sektor riil menata kembali usahanya dan siap memperoleh fasilitas kredit kembali periode mendatang.

“Jadi kami masih memberikan kesempatan agar ini bisa dimanfaatkan sektor perbankan, karena terkait kualitas kredit. Demand dari sektor riil belum begitu muncul, karena perbankan sangat tergantung dari industri. Selain itu, kepercayaan perbankan terhadap sektor riil juga masih penuh tanda tanya.  Ke depan, sesuai yang direncanakan BI juga, industri perbankan mengucurkan kredit minimal 30 persen pada 2024 mendatang secara nasional. Jadi OJK banyak meminta perbankan untuk menyalurkan kredit kepada sektor UMKM yang disesuaikan dengan ciri khas perbankan itu sendiri,” terangnya.

BERITA REKOMENDASI