Optimistis di 2021, Pertumbuhan Ekonomi DIY 5 Persen

SLEMAN, KRJOGJA.com – Tradisi tahunan menyelenggarakan diskusi terbatas akhir tahun kembali digelar oleh ISEI Cabang Yogyakarta. Diskusi dengan tajuk “Optimisme Perekonomian DIY 2021” diselenggarakan di Bogeys Teras, Hotel Hyatt Regency Yogyakarta. Hadir dalam diskusi tersebut Edy Suandi Hamid (Rektor UWM/Guru Besar UII), Hilman Tisnawan (Kepala BI DIY), Jimmy Parjiman (Kepala OJK DIY), Amirullah Setya Hardi (Dosen FEB UGM), Bogat AR (Pengusaha Properti), Wawan Harmawan (Pengusaha/Waket KADIN DIY), dan Bakti Setiawan (Pendamping Kampung Wisata/Desa Wisata).. Moderator dan perangkum diskusi adalah Y. Sri Susilo (Dosen FBE UAJY) sekaligus Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. Sebelum diskusi seluruh peserta sempat berolahraga. Sebagian bermain golf dan lainnya bersepeda sehat.

Dalam diskusi yang berlangsung selama 2 jam tersebut diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:Pertama, sejalan dengan kondisi perekonomian nasional maka Perekonomian DIY tahun 2021 diwarnai dengan optimisme. Hal tersebut terkait dengan program vaksinasi Covid-19 yang sudah berjalan dan bebas biaya bagi masyarakat. Dengan adanya vaksinasi tersebut akan mendorong masyarakat untuk lebih banyak beraktivitas ke luar rumah atau daerah. Kondisi tersebut dapat mendorong konsumsi masyarakat. Meningkatnya konsumsi dapat mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi, baik melakukan ekspansi usaha dan membuka usaha baru. Dengan adanya vaksinasi ujungnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi DIY (consumption and investnment led growth). Pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2021 diprediksi sekitar 5%, tidak berebda jauh dengan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Kedua, faktor lain yang menjadi dasar optimisme Perekonomian DIY tahun 2021 adalah realusasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang semakin implementatif, termasuk di DIY. Seperti diketahui Program PEN diantaranya berupa stimulus fiskal dan non fiskal bagi pelaku ekonomi baik skala ultra mikro, mikro, kecil, menengah dan besar. Di samping itu, adanya dukungan stimulus perbankan berupa relaksasi cicilan utang dan bunga yang diundur sampai bulan Maret 2022 dapat memperpanjang “nafas’ dunia usaha.

BERITA REKOMENDASI