Pencadangan Naik, Laba BCA Tergerus

JAKARTA, KRJOGJA.com – Laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BCA) selama triwulan III tahun 2020 mencapai Rp 20 triliun atau mengalami penurunan 4,2 persen bila dibanding periode yang sama tahun 2019 yang mencapai Rp 20,9 triliun.

Penurunan laba ini dikarenakan pencadangan  BCA mengalami peningkatan. . BCA membukukan biaya pencadangan sebesar Rp 9,1 triliun, meningkat sebesar Rp 5,6 triliun (160,6 persen )  dari periode yang sama tahun 2019 lalu.

“Selama 9 bulan pertama tahun 2020 dengan laba bersih Rp20 triliun, turun 4,2 persen dibandingkan dengan Rp 20,9 triliun pada tahun sebelumnya disebabkan meningkatnya biaya pencadangan yang cukup besar,” kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, pada acara paparan kinerja Triwulan III BCA, di Jakarta, Senin (26/10).

Sementara untuk target laba hingga akhir tahun 2020, Jahja mengatakan, tidak berani menetapkan berapa target laba yang akan dicapai . Pasalnya kondisi saat ini situasi juga belum diprediksi akibat pandemi covid ini,  apalagi  hingga akhir tahun belum pasti ketersedian vaksin  covid-19.

“ Jadi saya ga berani mempresiksi laba hingga akhir tahun ini, karena situasi juga belim pasti. Nanti saya prediksi tetapi pasti berbeda dengan yang anda prediksi. Ya udah ga usah kita prediksi laba hingga fuuk year 2020 ini,” ujarnya.

Sementara untuk kredit, Jahja mengatakan, permintaan kredit pada akhir September 2020, total kredit BCA tercatat sebesar Rp 581,9 triliun, turun 0,6 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan positif pada kredit korporasi menopang penyaluran kredit BCA secara keseluruhan di tengah pelemahan kredit segmen lainnya. Kredit korporasi tercatat sebesar Rp 252,0 triliun, meningkat 8,6 persen,  sementara kredit komersial dan UKM turun 4,9 persen menjadi Rp 182,7 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, KPR turun 3,1 persen menjadi Rp 89,3 triliun dan KKB turun 19,3 persen menjadi Rp 38,6 triliun.

“ Hingga akhir tahun 2020  kredit untuk korporasi meningkat hingga 10-12 persen, tetapi untuk kredit konsumer akan turun 12-15  persen. Kita bisa mengeeti karena KPR dan KKB permintaannya belum pulih,” tegasnya.

Saldo outstanding kartu kredit turun 18,5 persen menjadi Rp 10,9 triliun. Total portofolio kredit konsumer turun 9,4 persen menjadi Rp 141,7 triliun. Dari total portofolio kredit, sekitar 20 persen atau Rp 114 triliun merupakan portofolio kredit keuangan berkelanjutan dalam rangka mendukung impelementasi ESG (Enviromental, Social, and Governance) dan komunitas UKM.

Adapun kredit bermasalah atau NPL BCA hingga triwulan I tahun 2020 mencapai 1,9 peraen atau meningkat darinperiode yang sama tahun 2019 yang menvapai 1,6  persen.

BCA juga melakukan  restrukturisasi kredit nasabah sejak awal pandemi. Sampai dengan pertengahan Oktober 2020, BCA memproses Rp 107,9 triliun pengajuan restrukturisasi kredit atau sekitar 19 persen dari total kredit, yang berasal dari 90.000 nasabah.

Total kredit yang direstrukturisasi pada akhir 30 September 2020 adalah sebesar Rp 90,7 triliun, atau 16 persen dari total kredit pada semua segmen.

“Untuk restrukturisasi kredit ini senula kami perkirakan bisa mencapai 30 persen, tetapi hingga September 2020 hanya 19 persen. Kami sangat bersyukur atas program relaksasi dari regulator yang membantu perbankan dan nasabah dalam melewati masa yang sulit untuk mencapai pemulihan”kata, Jahja.

Sementara dana pihak ketiga (DPK), Jahja mengatakan, dalam 9  bulan pertama 2020 mengalami  pertumbuhan sebesar 14,3 persen menjadi Rp 780,7 triliun.

Adapun CASA tumbuh 16,1 persen mencapai Rp 596,6 triliun,  Sementara itu, deposito berjangka meningkat sebesar 8,8 persen mencapai Rp 184,1 triliun.

Adapun total asset BCA menembus level seribu triliun atau tepatnya Rp 1003, 6 Triliun, meningkat 12,3 persen.

“CASA memberikan kontribusi sebesar 76,4 persen dari total dana pihak ketiga,” tegasnya.

Sementara untuk transaksi  melalui mobil dan internet banking BCA, saat ini terus meningkat yakni mencapai sekitar 33 juta transaksi per hari selama sembilan bulan pertama tahun 2020, meningkat dari 26 juta transaksi per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya. ( Lmg)

BERITA REKOMENDASI