Pengelolaan Utang Terkontrol, Bisnis APL Sudah On Track

“Padahal kondisi fundamental emiten bersangkutan belum tentu seburuk yang digambarkan oleh lembaga pemeringkat itu. Inilah yang perlu dicermati oleh investor dan juga regulator terkait opini yang dikembangkan oleh lembaga rating,” kata Fendi, Host program Podcast Omongan Investasi dan Finansial (OmFin) Channel.

Justini mengungkapkan dampak pandemi COVID-19 telah memengaruhi industri properti. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga membatasi operasional pusat perbelanjaan seperti mall dan trade mall. Sementara sektor perhotelan saat ini masih terus memulihkan kepercayaan pelanggan.

“Kami terus melakukan berbagai inisiatif untuk mendorong aktivitas bisnis di tiga sektor itu terus meningkat. Kami percaya ditengah tantangan yang ada tetap ada peluang untuk mengoptimalkan pendapatan,” ungkap Justini.

Beberapa inisiatif yang dilakukan APL diantaranya adalah mendorong produk-produk properti baru di lokasi proyek-proyek di berbagai daerah. Hasilnya cukup menggembirakan. Penjualan produk rumah tapak di sejumlah kawasan hunian seperti Podomoro Park Bandung, Podomoro Golf View di Cimanggis, dan Vimalla Hills di Bogor memperlihatkan trend membaik dan meningkat.

Sampai dengan Juli 2020 lalu APL sukses meraih marketing sales atau pra-penjualan sebesar Rp610 miliar (di luar pajak pertambahan nilai/PPN). Perseroan optimis dapat mencapai target marketing sales sekitar Rp1,2 triliun hingga akhir tahun 2020.(*)

BERITA REKOMENDASI