Pernyataan Trump Lemahkan Ekonomi Global

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kondisi ekonomi global melemah dan risikonya makin meningkat.  Kondisi global saat ini dipengaruhi oleh munculnya pusat krisis baru dan adanya tekanan perdagangan internasional. 

Menurut Menkeu pusat krisis baru yang muncul antara akibat naiknya tensi politik di Jepang-Korea dan Hong Kong, pembalikan kurva imbal hasil Amerika Serikat (AS). Lalu perang dagang AS-Tiongkok yang  berkembang menjadi Currency War. Kondisi-kondisi ini menyebabkan sumber risiko global makin meluas dan meningkat. Adapun di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sudah merespons dengan menurunkan BI 7-Days (Reverse) Repo Rate sebanyak 2 kali. Langkah ini diharapkan efektif untuk menekan pengaruh global kepada ekonomi domestik.

“Selain kekhawatiran perang dagangan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok yang menyebabkan ekonomi dunia melemah, ditambaah mata uang Tiongkok Yuan Rimimbi melakukan spekulan , sehingga terjadi krisis baru yakni currency war.. Ini perlu diwaspadai oleh pemerintah Indonesia,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati pada acara pada acara APBN KITA di Jakarta, Senin (26/8).

Selain itu, adanya pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menaikkan kembali tarif impor barang dari Tiongkok serta The Fed yang memberikan sentimen ke negatif di pasar global.

"Pernyataan Trump yang mau meningkatkan tarif impor dari Tiongkok, kecuali beberapa barang tidak dikenakan kenaikan tarif terutama untuk barang yang dibutuhkan menjelang Natal. Namun malah Cina juga menaikkan tarif dari Amerika Serika, ini yang menyebabkan gejolak saham di seluruh dunia," tegasnya.

Dikatakan,  perekonomian Indonesia Semester I-2019 bertumbuh sebesar 5,06 persen  di tengah perlemahan dan ketidakpastian ekonomi dunia. Pada Semester I-2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh kuatnya konsumsi dan  kebijakan countercyclical belanja pemerintah. Stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan laju inflasi pada Juli 2019 sebesar 3,32 persen, dengan nilai tukar rupiah yang relatif stabil. Kondisi ini diyakini akan menjaga tingkat konsumsi masyarakat dan mendukung stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, pernyataan Presiden Trump untuk kembali melakukan kenaikan tarif impor barang dari Tiongkok, serta pernyataannya terkait the FED, memberi sentimen negatif di pasar global. Hal ini tergambar pada kenaikan indeks volatilitas secara signifikan. Sedangkan, kebijakan dovish dari the Fed serta kebijakan pemberian stimulus ekonomi dari ECB, telah membuka ruang untuk mengalirnyamodal ke emerging market, termasuk Indonesia. Kondisi ini memberi dukungan untuk penguatan nilai Rupiah. (Lmg)

 

BERITA REKOMENDASI