Pinjol Menjamur, Hanya Ada 127 Perusahaan Legal

JAKARTA, KRJOGJA.com –  Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , Tongam Lumban Tobing mengatakan, saat ini pinjaman online ilegal saat ini cukup banyak yakni mencapai 1.723 perusahaan Peer to Peer Lending (P2P Lending) atau fintech online.   

Sementara perusahaan yang legal dan terdaftar di OJK saat ini baru  127 perusahaan pinjaman online. Dengan rincian 119 perusahaan yang sudah terdaftar dan 8 perusahaan yang sudah berizin.

Dia menjelaskan  penyaluran pinjaman P2P Lending ilegal per 31 Agustus 2019 mencapai Rp 54,7 triliun dengan jumlah peminjam 530.385 peminjam di mana 207.507 merupakan entitas dan jumlah pemberi pinjaman 12,8 juta di mana 4,4 juta merupakan entitas. 
Sedangkan penyaluran fintech legal baru mencapai Rp 10,1 triliun dengan jumlah penerima mencapai 14,3 juta.

Dikatakan, sepanjang tahun 2018 hingga Oktober 2019, Satgas sudah menghentikan 1.773 entitas fintech peer-to-peer lending tanpa izin OJK dan mengumumkannya. Adapun masalah yang sering muncul dari bisnis pinjaman online ilegal adalah perusahaan tidak terdaftar, bunga pinjaman tidak jelas, alamat peminjaman tidak jelas dan berganti nama, media yang digunakan di mana pelaku fintech peer-to-peer lending ilegal tidak hanya menggunakan Google Play Store untuk menawarkan aplikasi, tapi juga link uduh yang disebar melalui SMS atau dicantumkan dalam situs milik pelaku. 

Masalah Iainnya, kata Tongam adalah penyebaran data peminjam, cara penagihan yang tidak benar di mana penagihan tidak hanya kepada peminjam tapi juga kepada keluarga, rekan kerja. sampai atasan. Ada juga fitnah, ancaman, pelecehan seksual, dan penagihan sebelum batas waktu. Melihat fakta tersebut, OJK tidak tinggal diam.

Sementara itu, Senior Manager of Business Development Modalku, Arief Ghani mengatakan, perusahaan peer to peer lending merupakan bisnis yaang sangat menjanjikan dengan pasar yang besar. Menurutnya, saat ini ada 63 juta pengusaha kecil atau UKM yang membutuhkan modal. Sebanyak 74 persen tidak mempunyai akses pada permodalan. ”lni yang menjadi pasar atau captive market bagi Modalku,” katanya. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI