Pulihkan UMKM DIY dengan Adopsi Teknologi dari Hulu ke Hilir

Editor: Ary B Prass

YOGYA, KRJOGJA.com – Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) DIY sebagai penopang perekonomian DIY menjadi sektor yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, diperlukan langkah strategis dalam pengembangan sektor ekonomi potensial di DIY, salah satunya peningkatan daya saing UMKM dalam rangka mengakselerasi perekonomian daerah.

Pemulihan daya saing UMKM tersebut harus mengadopsi teknologi dengan cepat, jika tidak UMKM akan mati sehingga harus didorong seoptimal mungkin dari hulu ke hilir memanfaatkan teknologi.

Selain itu, perekonomian DIY tidak akan mampu tumbuh apabila tidak mempunyai terobosan batu memanfaatkan potensi lainnya sehingga perlu new source of growth dengan memanfaatkan kehadiran Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) sebagai hub logistik. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan dalam Forum Diskusi BI, ISEI DIY dan KR dipandu Wakil Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat Ronny Sugiantoro di Gedung Heritage BI, Jumat (10/9/2021).

“Pandemi Covid-19 menyebabkan ekonomi mengalami resesi dan perlahan mengalami rebound pada 2021, namun recovery diperkirakan tidak akan merata dan berpotensi membentuk K-Shaped. Adaptasi digitalisasi menjadi salah satu kunci untuk mendorong UMKM DIY agar naik kelas. Tren penjualan secara daring terus meningkat sehingga membuka  peluang UMKM DIY memperluas jangkauan pasar. Namun apabila kalah bersaing akan berisiko mengalami lonjakan impor dari daerah maupun negara lain,” tutur Hilman.

Hilman menyatakan ekonomi DIY maupun Indonesia memiliki tren meningkat sering dengan perbaikan ekonomi global. Ekspor DIY dalam tren pertumbuhan yang baik, namun masih belum optimal. Produk ekspor unggulan DIY berupa Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) serta Furniture dan Kayu dimana mayoritas 67 persen produk ekspor DIY dikirim ke Amerika dan Eropa.

BIY dapat menjadi salah satu gerbang utama ekspor Jawa sebab logistik di Jawa sangat bergantung pada Bandara Internasional Soekarno-Hatta di sebelah barat maka perlu pemerataan di daerah Jawa bagian tengah dan timur.

” Mayoritas produk ekspor DIY menggunakan kargo laut, maka jika ingin  mengoptimalkan kargo udara di YIA perlu perluasan jangkauan. Logistik BIY tidak akan optimal jika mengandalkan produk dari DIY saja, maka perlu diperluas ke Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur yang menjadi basis industri. Berkembangnya kawasan industri di Jateng berpotensi menambah produk potensial ekspor yang dapat ditarik ke BIY,” terangnya.

BERITA REKOMENDASI