Saatnya Melirik Reksa Dana Saham

MEMASUKI bulan keempat sejak kasus positif COVID-19 dipublikasikan di Indonesia, pasar finansial mulai menggeliat kembali, terutama sejak transisi PSBB diumumkan, dimana aktivitas ekonomi mulai dapat dilakukan secara terbatas.

Memang masih panjang perjalanan menuju ke era normal seperti sebelum pandemi. Tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir. Kita harus tetap waspada, mengikuti anjuran pemerintah, turut disiplin untuk membantu memutus mata rantai pandemi ini.   Selama masa pandemi, instrumen dengan risiko dan volatilitas rendah – seperti pasar uang – menjadi pilihan investor.

Namun untuk investor dengan profil agresif yang lebih berani menghadapi volatilitas, apakah sudah saatnya melirik instrumen saham, termasuk reksa dana saham? Simak penjelasan Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Pasar finansial menggeliat

Sepanjang tahun berjalan dari akhir tahun 2019 sampai dengan akhir Juni 2020, indeks harga saham gabungan (IHSG) merosot dari level 6299 ke level 4905, atau pelemahan sebesar 22,1%. Di level terendahnya pada tanggal 24 Maret, IHSG bahkan sempat bertengger di level 3937 (atau melemah 37,5% hanya dalam tiga bulan dihitung dari akhir tahun 2019). Di lain pihak, jika kita berandai-andai menjadi cenayang yang dapat tepat mulai berinvestasi tanggal 24 Maret tersebut, “keuntungan” yang kita raup dalam tiga bulan sampai akhir Juni adalah sebesar 24,6%! Sayangnya, kita bukan cenayang.

Memasuki semester kedua tahun 2020, pergerakan pasar finansial Indonesia mulai menggeliat. Penyeimbangan antara pelonggaran PSBB diikuti dengan fokus upaya penurunan penyebaran wabah publik menimbulkan harapan kebangkitan ekonomi secara bertahap. Walaupun tantangan ke depan masih besar, tapi setidaknya perekonomian tidak ‘tutup total’ seperti dua atau tiga bulan yang lalu.

Dukungan stimulus fiskal dan moneter dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) juga semakin mengangkat sentimen. Ekspektasi pelemahan ekonomi akibat pandemi, langkah BI yang memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 4,25% menjadi kabar positif bagi pasar. Penurunan suku bunga diharapkan menjadi oli bagi roda ekonomi,  menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi di era COVID-19.

IHSG membaik, saatnya masuk ke saham?

Kedepannya, IHSG tentu masih berfluktuasi, karena memang kenyataannya masih banyak faktor ketidakpastian mengenai pandemi COVID-19.  Namun yang perlu diingat, IHSG adalah salah satu leading indicator, artinya ia bergerak berdasarkan ekspektasi atau harapan di masa depan, ‘mendahului’ fakta yang ada saat ini. Nah, dengan harapan bangkitnya perekonomian secara bertahap, dukungan stimulus dan moneter, berita-berita mengenai efektivitas uji coba vaksin, dan cukup banyaknya kawasan di dunia yang sudah berhasil menekan penyebaran wabah (dibandingkan beberapa bulan lalu), IHSG pun dapat meningkat lebih dahulu. Sebaliknya, tentu saja masih ada risiko  peningkatan kasus positif COVID-19 semakin tinggi dari hari ke hari, yang berpotensi menyebabkan  diberlakukannya kembali  kebijakan pembatasan skala besar yang menekan ekonomi.

Namun bagi investor berprofil agresif dengan horison investasi jangka panjang, saat ini bisa jadi adalah saat yang tepat untuk secara bertahap berinvestasi kembali di reksa dana saham.  Namun harus diingat, profil risiko investor tetap harus dikedepankan. Investasi di saham, termasuk di reksa dana saham adalah investasi jangka panjang. Jangan karena kondisi sesaat yang menyebabkan investasi terkoreksi, langsung memutuskan untuk menarik investasinya. Ada baiknya memikirkan kembali tujuan investasinya dan jangka waktu. Kita bisa kembali melihat pergerakan IHSG sepanjang tahun berjalan sebagai referensi, bagaimana keputusan untuk tetap bertahan atau mencairkan investasi dapat membuat perbedaan kinerja yang sangat signifikan.

Namun untuk investor dengan profil konservatif moderat, bukan berarti tidak ada peluang. Reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan. Di tengah era suku bunga rendah, reksa dana pasar uang dan pendapatan tepat atau obligasi Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang tetap atraktif. (*)

 

 

BERITA REKOMENDASI