Semester I/2020, BCA Bukukan Laba Bersih Rp12, 9 Triliun

JAKARTA, KRJOGJA com – Laba bersih Bank okeCentral Asia  (BCA)  selama semester I tahun 2020  sebesar Rp 12,2 triliun atau mengalami penurunan bila dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang mencapai  Rp 12,9 triliun. Penurunan laba terjadi karena penurunan kualitas kredit yang cukup tajam, misalnya kredit kendaraan bermotor ( KKB) bila keadaan normal, kreditnya mencapai 2,5-3 triliun per bulan, namun selama adanya pandemi covid-19 hanya Rp 200-300 miliar per bulan. Selain itu BCA juga melakukan pencadangan kerugian penurunan nilai ( CKPN) sebesar Rp 6,5 triliun.

“ Laba BCA semester I tahun 2020 , lebih rendah dari tahun lalu  karena pada semester I tahun ini kualitas  kredit  menurun tajam. Kredit BCA  dari  Maret hingga Juni hanya tumbuh 5,3 persen. Kemudian ada pencadangan CKPN,” kata Presiden Direktur PT Bank Central Asia ( BCA)  Jahja Setiaatmadja, pada cara paparan kinerja BCA semester I tahun 2020, secara virtual di Jakarta, Senin (27/7).

Dikatakan,  pencadangan tetap dilakukan oleh  BCA, namun jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan ke depan dan juga disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Bahkan pada semester II nanti  BCA juga tetap melakukan penambahan pencadangan.

Dijelaskan, pandemi berdampak pada perlambatan berbagai aktivitas bisnis di beragam industri, sehingga mengakibatkan lebih rendahnya permintaan kredit khususnya pada bulan Maret hingga Juni 2020. Kredit tumbuh sebesar 5,3 persen menjadi Rp 595,1 triliun pada Juni 2020 ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi. BCA membukukan kredit korporasi sebesar Rp 257,9 triliun, meningkat 17,7 persen.

Sementara kredit komersial dan UKM turun 0,9 persen   menjadi Rp 184,6 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, KPR tumbuh flat 0,3 persen menjadi Rp 91,0 triliun dan KKB turun 11,9 persen  menjadi Rp 42,5 triliun. Saldo outstanding kartu kredit turun 18,6 persen  menjadi Rp 10,6 triliun akibat penurunan konsumsi domestik. Total portofolio kredit konsumer turun 5,1  persen menjadi Rp 146,9 triliun.

Sementara untuk  restrukturisasi, Jahja mengatakan, BCA fokus mendukung nasabah untuk menghadapi kondisi perlambatan bisnis dengan memberikan restrukturisasi kredit secara selektif pada berbagai segmen. Selama bulan Maret sampai dengan Juni 2020, BCA memproses pengajuan restrukturisasi kredit sebesar Rp 115 triliun atau sekitar 20 persen  dari total portofolio kredit yang berasal dari 118.000 nasabah.

Per tanggal 30 Juni 2020, total kredit yang telah selesai direstrukturisasi tercatat sebesar Rp 69,3 triliun atau 12 persen  dari total portofolio kredit. Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30 persen dari total portofolio kredit, yang berasal dari 200.000-250.000 nasabah. Sedangkan  Rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar 2,1 persen dibandingkan 1,4 persen  pada Juni 2019.

Sementara untuk  dana pihak ketiga yang tinggi pada semester I tahun  2020. Dana giro dan tabungan (CASA) tumbuh 12,8 persen mencapai Rp 575,9 triliun dan berkontribusi sebesar 75,6 persen  dari total dana pihak ketiga pada Juni 2020.

BCA terus berinvestasi pada platform layanan transaksi perbankan, khususnya pada digital channels. Jumlah rekening tumbuh 11,9 persen mencapai 22,5 juta rekening hingga Juni 2020 didukung oleh layanan pembukaan rekening online. Sementara itu, deposito berjangka tumbuh 13,6 persen  mencapai Rp 185,6 triliun.

“Secara keseluruhan total dana pihak meningkat 13 persen menjadi Rp761,6 triliun. Posisi likuiditas tetap kokoh dengan LDR sebesar 73,3 persen. Likuiditas berada pada tingkat yang sehat untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan yang tidak terduga, khususnya selama masa pandemi,” katanya.

Diungkapkan, pada semester I tahun  2020, BCA berhasil menurunkan biaya dana pihak ketiga sehingga membantu meringankan tekanan pada pendapatan bunga gross yang diakibatkan oleh peningkatan restrukturisasi kredit. Pendapatan bunga bersih naik 10,6 persen  menjadi Rp 27,2 triliun. Pencapaian ini mendukung Bank untuk membukukan total pendapatan operasional sebesar Rp 37,8 triliun, tumbuh 10,3 persen. Di lain sisi, beban operasional tumbuh lebih rendah, sebesar 3,8 persen menjadi Rp 16,2 triliun.

“Dengan demikian, laba sebelum provisi dan pajak BCA mencapai Rp;21,5 triliun, tumbuh 15,8 persen, dimana pertumbuhan yang baik tersebut telah memberikan ruang untuk mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit,” tegasnya. ( Lmg)

 

BCA

BERITA REKOMENDASI