Stanchart-MAMI Pasarkan MAGOLD

Sementara itu Director Interim President Director MAMI Afifa, mengatakan, reksa dana Manulife Saham Syariah Golden Asia Dolar AS atau MAGOLD merupakan reksa dana saham syariah offshore terbaru yang dikelola oleh MAMI.

MAGOLD menawarkan peluang investasi dari dua perekonomian terbesar di kawasan negara berkembang saat ini, yaitu China dan India. Kedepannya, kedua negara ini juga masih memiliki potensi pertumbuhan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi maupun perkembangan pasar sahamnya. Didukung oleh populasi yang besar, China dan India memiliki potensi ekonomi yang besar. Di tahun 2030, China dan India diperkirakan akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia dan memiliki peranan yang semakin penting dalam perekonomian global.

dijelaskan bahwa MAGOLD mengalokasikan 80 – 100 persen dari aset yang dikelola untuk diinvestasikan di instrumen saham syariah di Kawasan China dan India serta 0 – 20 persen di instrumen pendapatan tetap, sukuk, atau pasar uang yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Sesuai tolok ukurnya, MAGOLD akan mengalokasikan sekitar 70 persen dari aset yang dikelola pada kawasan China dan 30 persen di India.

Dikattakan, nasabah Standard Chartered dapat berinvestasi di reksa dana MAGOLD dengan nyaman melalui aplikasi SCMobile. Seluruh transaksi reksa dana, baik subscription, switching, maupun redemption dapat dilakukan melalui aplikasi ini. Selain MAGOLD, nasabah juga dapat membeli reksa dana kelolaan MAMI lainnya. Saat ini Standard Chartered merupakan satu-satunya bank di Indonesia yang memiliki seluruh ragam produk reksa dana dengan denominasi dolar AS kelolaan MAMI, sehingga memudahkan para nasabah kami dalam melakukan one-stop investing pada produk MAMI.”

Selain MAGOLD, dua reksa dana saham syariah offshore kelolaan MAMI lainnya yang tersedia di Standard Chartered adalah Manulife Saham Syariah Global Dividen Dolar AS (MANSYAG) dan Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF). MANSYAG adalah reksa dana global dengan fokus investasi pada negara Amerika Serikat dan kawasan Eropa. MANSYAG berinvestasi pada saham-saham perusahaan skala global dan pemimpin industri, dengan rekam jejak yang panjang, fundamental teruji serta profitabilitas yang berkesinambungan. Keunggulan MANSYAG adalah memiliki fitur pembagian hasil investasi, dengan potensi distribusi penghasilan setiap enam bulan. Sedangkan, portofolio MANSYAF terdiversifikasi dengan berinvestasi pada saham-saham di berbagai negara yang ada di kawasan Asia Pasifik, khususnya di Asia Utara. Reksa dana denominasi dolar AS kelolaan MAMI lainnya yang tersedia di Standard Chartered adalah Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF) dan Manulife USD Fixed Income (MANUFIX) yang merupakan reksa dana onshore.

China dan India saat ini menjadi dua perekonomian terbesar di kawasan negara berkembang, dan kedepannya masih akan memiliki potensi pertumbuhan yang pesat karena didukung oleh tiga faktor, yaitu peluang pertumbuhan, transformasi industri, dan reformasi kebijakan. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan China tumbuh lebih dari 8 persen sementara India lebih dari 11 persen untuk 2021.

Sementara menurut Chief Economist and Investment Strategist MAMI, Katarina Setiawan memaparkan bahwa potensi pertumbuhan ekonomi di China dan India didukung oleh populasi yang besar. Di tahun 2030, China dan India diperkirakan menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia dan memiliki peranan yang semakin penting dalam perekonomian global. Di tahun 2030, PDB nominal China dan India masing-masing diperkirakan akan mencapai 64,2 triliun dolar AS dan 46,3 triliun dolar AS.

Katarina menambahkan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, China dan India mengalami transformasi kondisi sosial ekonomi. China diperkirakan mengalami transisi perubahan populasi dari masyarakat kelas menengah menuju pendapatan kelas atas, sementara India menikmati transisi peningkatan populasi kelas menengah. Meningkatnya populasi kelas menengah-atas akan mendukung konsumsi sebagai penopang PDB.

China dan India juga diperkirakan akan mengalami transformasi sektor industrial. Pemerintah China memiliki visi menjadikan China sebagai global leader dalam industri teknologi tinggi, beralih dari fokus sebelumnya pada low-end manufacturing. Transformasi industri akan menjadikan China sebagai negara produsen produk-produk berteknologi tinggi, tidak kalah dari produk-produk yang dibuat negara maju lainnya. Sementara India memiliki visi untuk menjadi hub manufaktur global, terutama di tengah tren diversifikasi produksi dari China ke negara Asia lainnya.

Kedua negara ini juga terus membuat reformasi kebijakan yang berkelanjutan untuk menarik investasi dan kemudahan berbisnis, serta senantiasa meningkatkan nilai tambah bagi investor. (Lmg)

BERITA REKOMENDASI