Youtuber juga perlu Pengelolaan Keuangan, Ini Buktinya

SUDAH banyak anak muda yang terinspirasi menjadi seorang youtuber . Iming-iming popularitas dan uang acapkali menjadi daya tariknya. Namun butuh proses untuk menggapai semua itu. Belum lagi, kita harus pintar mengelola pendapatan yang diperoleh, karena belum tentu seorang youtuber akan menerima pendapatan yang sama setiap bulannya.

Mari simak penjelasan Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI).

Youtuber bukanlah sesuatu yang instan
Perkembangan teknologi dan mudahnya akses ke sosial media semakin mengangkat popularitas youtuber di masyarakat. Popularitas dan uang menjadi sesuatu yang diidam-idamkan, khususnya untuk kalangan milenial. Namun harus diingat, yang dilihat atau didengar tidaklah seindah kenyataan. Selain butuh waktu dan proses, terkadang nasib baik juga dibutuhkan untuk menjadi seorang youtuber.  
 
Menjadi seorang youtuber yang sukses, harus punya konten yang unik dan kreatif. Janganlah mengambil jalan pintas dengan konten-konten yang negatif, hanya sekedar untuk mendapatkan click-bait.  Anak-anak muda yang berkeinginan menjadi youtuber, dapat mulai mengasah ketrampilan dan ide kreatif mereka. Banyak youtuber sukses dengan konten positif, yang kita dapat ambil manfaatnya.

Selain konten unik dan kreatif, yang juga sangat penting adalah konsistensi produksi atau jadwal rilis konten itu sendiri.  Di tengah banyaknya youtuber, sangat mudah bagi seorang youtuber untuk ‘tenggelam’ di tengah lautan luas sosial media, karena lengah tidak memproduksi konten secara berkala. Jadi, siapa bilang youtuber itu pekerjaan santai? Kelihatannya saja begitu. 
 
Atur pendapatan setiap bulannya
Saat konten youtube sudah mulai menghasilkan, berpikirlah untuk mengelola keuangan yang diterima. Harus diingat, besarnya pendapatan yang diterima dari konten tidaklah sama setiap bulannya. Seorang youtuber, baik itu yang sedang merintis ataupun sudah sukses, tidak akan pernah tahu sampai kapan kesuksesan itu akan diraih dan bertahan. Penghasilan dari profesi semacam ini tidak bisa dipastikan, karena namanya tidak tetap, ada kalanya di satu bulan bisa mendapatkan uang yang banyak, namun di bulan berikutnya justru kurang atau tidak ada yang bisa disimpan.
 
Dengan penghasilan yang naik turun seperti itu, penting sekali untuk membuat catatan keuangan, untuk mengetahui berapa besar pengeluaran tetap yang harus dikeluarkan setiap bulan. Belum lagi, harus dipikirkan juga biaya kesehatan dan benefit-benefit lain yang tidak didapatkan layaknya karyawan kantoran.  Penting bagi seorang youtuber untuk menyisihkan pendapatan yang diperolehnya setiap bulan. Nah, tantangannya adalah bagaimana menyisihkan dari penghasilan, tinggal menyesuaikan besaran jumlahnya.
 
Kuncinya di catatan keuangan
Idealnya kita bisa menyisihkan minimal 20% dari penghasilan yang diterima. Namun saat penghasilan besar, tidak ada salahnya menambahkan porsi tersebut. Dari catatan keuangan yang dibuat, akan mudah terlihat berapa yang bisa kita sisihkan setiap bulannya untuk biaya operasional. Penting juga untuk membuat dana darurat. 
 
Pastikan dana simpanan anda bekerja
Setelah kita bisa menyisihkan penghasilan, ada baiknya dana tersebut kita investasikan juga agar berkembang. Jadi tidak hanya kita saja yang susah payah bekerja mencari uang, tapi kita juga harus pastikan uang yang kita sisihkan juga bekerja, tidak diam saja di tabungan. Bagi youtuber yang sewaktu-waktu perlu untuk menggunakan ‘dana jaga-jaga’, baiknya investasikan dananya di instrumen investasi dengan risiko rendah dan juga likuid (bisa dicairkan kapan saja).
Reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan pilihan instrumen investasi yang tepat untuk keperluan ini karena memiliki karakteristik imbal hasil yang kompetitif dengan deposito dan bisa dicairkan kapan saja karena tidak ada jangka waktu investasi. 
 
Memiliki impian atau cita-cita sebagai youtuber tidak ada salahnya. Ada juga yang memulai profesi youtuber saat masih muda (usia sekolah) ataupun ketika sudah bekerja (sebagai pekerjaan sampingan). Tidak ada yang tidak mungkin. Apapun itu jangan setengah-setengah mengerjakannya. (*)
 

BERITA REKOMENDASI