Imbas Penurunan Level PPKM, Inflasi DIY Terakselerasi Selama Oktober 2021

user
Ary B Prass 04 November 2021, 13:07 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com- Inflasi DIY mengalami akselerasi selama Oktober 2021 pasca penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di DIY dari level 3 menjadi level 2. Inflasi DIY tercatat 0,24 persen (mtm) pada Oktober 2021 setelah mengalami deflasi 0,17 persen (mtm) pada bulan sebelumnya sesuai yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. Secara tahunan inflasi DIY Oktober 2021 berada pada level 1,75 persen (yoy), tertinggi selama 2021.

" Meski demikian, capaian inflasi kumulatif DIY sepanjang Januari sampai Oktober 2021 baru mencapai 1,12 persen (ytd). Dengan kondisi ini, kami memperkirakan inflasi DIY 2021 akan berada di bawah target sasaran 3 plus minus 1 persen," ujar Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Ri’fat Pasha di Yogyakarta, Kamis (4/11/2021).

Ri'fat mengatakan kenaikan inflasi ini menjadi pertanda positif yang mengindikasikan perbaikan ekonomi pasca relaksasi pembatasan mobilitas. Terkendalinya laju penyebaran gelombang kedua Covid-19 sejak pertengahan Oktober 2021  menyebabkan seluruh wilayah DIY mengalami penurunan level PPKM ke Level 2. Kondisi ini mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat dan optimisme konsumen.

" Hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia mencatat level tertinggi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Oktober 2021 sebesar 135,6 point, tertinggi selama masa pandemi setahun terakhir," tegasnya.

Secara garis besar, Ri'fat menyatakan peningkatan inflasi Oktober didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan global di tengah siklus musim tanam dan siklus pendidikan. Di tengah peningkatan permintaan, komoditas hortikultura seperti aneka cabai mulai memasuki siklus masa tanam setelah melewati masa puncak panen raya di penghujung triwulan III lalu. Pasca berakhirnya masa panen raya, harga aneka cabai berangsur naik dan diperkirakan berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.

"Sementara dari sisi global, krisis energi di Eropa mengerek harga minyak mentah dunia yang berimbas pada kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) global dan berimbas pada kenaikan harga Minyak Goreng. Sementara untuk kelompok pendidikan, meski pembelajaran masih didominasi daring, namun ekspektasi pemulihan ekonomi dan potensi pembelajaran tatap muka dalam waktu dekat  mendorong inflasi pendidikan," paparnya.

Sejalan dengan perkembangan positif ini serta dalam rangka menjaga momentum pemulihan ekonomi yang sustainable, pihaknya pun berupaya meminimalkan penyebaran Covid-19 perlu terus dilakukan dan dijaga konsistensi penerapannya. Termasuk di dalamnya mendorong penerapan protokol kesehatan di tempat wisata, kewajiban penggunaan aplikasi Peduli Lindungi di lokasi-lokasi berisiko, serta terus mendorong vaksinasi Covid-19 untuk mencapai herd immunity.

" Dengan berbagai upaya ini, kami meyakini ekonomi DIY dapat bertumbuh secara berkelanjutan," tambah Ri'fat. (Ira)

Kredit

Bagikan