PPJI Usulkan Pernikahan 'Hampers', Ini Maksudnya

user
tomi 30 Juli 2020, 21:12 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Ketua DPD PPJI DKI Jakarta Siti Djumiadini dalam acara Jakarta Barat menggelar simulasi pernikahan di masa pandemi Covid-19 sekaligus peluncuran aplikasi digital Nikahinaku, Kamis (20/7/2020) berharap pemerintah mengijinkan model pesta pernikahan sistem hampers. Kegiatan yang digelar di Graha Finelink, Jakarta Barat tersebut dihadiri oleh Ketua DPD PPJI DKI Jakarta Siti Djumiadini, anggota DPD RI Dapil Propinsi DKI Jakarta Fahira Idris dan Ketua Umum DPP PPJI Irwan Iden Gobel.

Ketua DPD PPJI DKI Jakarta Siti Djumiadini mengatakan sejak muncul pandemi Covid-19 di Tanah Air, praktis kegiatan wedding tidak ada lagi. Industri-industri yang bersentuhan langsung dengan wedding seperti event organizer, dokumentasi pernikahan, dekorasi dan catering terkena imbas yang sangat berat. Karena itu sejak awal Mei, PPJI DKI Jakarta terus berupaya mencari cara dan bentuk wedding yang cocok untuk ‘menghidupkan’ kembali industri wedding ini. Terutama terkait tata cara pelaksanaan pesta pernikahan yang sesuai dengan masa pandemi Covid-19.

“Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan Pemrov DKI Jakarta, juga industry-industri yang terlibat langsung pada pesta pernikahan, bagaimana caranya agar industri wedding ini dapat beroperasi kembali,” kata Siti Djumiadini yang akrab dipanggil Dini di sela simulasi pesta pernikahan dan peluncuran aplikasi digital Nikahinaku yang digagas DPC PPJI Jakarta Barat di Graha Finelink.

Intinya, sebenarnya dalam berbagai even apapun termasuk pesta pernikahan, pemerintah tidak menginginkan adanya perkumpulan massa, konsentrasi massa, kerumunan banyak orang. Larangan ini bertujuan untuk menghindari penularan virus corona.

Dini mengakui pada Mei, perkumpulan para pengusaha dibidang wedding mulai dari event organizer, MC, catering, dokumentasi, dekorasi dan lainnya yang bersatu dalam GP3I (Gabungan Perkumpulan Penyelenggara Pernikahan Indonesia telah menyusun protap kesehatan wedding sesuai imbauan Kementerian Kesehatan. Protap ini sudah disebar ke semua anggota dan pelaku industri wedding.

Tetapi protap yang disusun waktu itu adalah wedding dalam bentuk buffet. Bentuk buffet ini ternyata masih memiliki peluang risiko terhadap terjadinya pengumpulan massa.

Karena itu, lanjut Dini, kemudian disusun lagi model pesta pernikahan yang sesuai aturan pemerintah selama pandemi Covid-19 ini. Model pesta pernikahan yang dimaksud adalah pernikahan yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mulai dari penggunaan masker untuk pengantin, keluarganya dan semua tamu, menggunakan masker dan face shield bagi semua petugas, penggunaan hand sanitizer, physical distancing, pemasangan tirai pembatas, pengaturan jarak tempat duduk dan lainnya. Termasuk pengaturan ruang pesta, layanan catering, dekorasi, dokumentasi, hingga aturan penerimaan tamu hingga angpo untuk pengantin dan keluarga. Semua harus dilakukan dengan mengindari kontak langsung, menjaga jarak, dan meniadakan salaman.

Bentuk baru pesta pernikahan ini, juga tidak ada sistem buffet. Menu makanan tetap disediakan untuk semua tamu undangan, tetapi dalam bentuk hampers atau nasi kotak. Sedang angpo dikirimkan dalam bentuk uang digital.

“Kalau protokol kesehatan diikuti, kami berpikir pesta pernikahan tidak akan berisiko terhadap penularan Covid-19,” tambah Dini.

Senada juga dikatakan Nena Firdaus, Ketua DPC PPJI Jakarta Barat. Untuk mencari bentuk terbaik model wedding era new normal, pihaknya menggelar simulasi yang melibatkan semua komponen yang biasanya terlibat dalam even pesta pernikahan, mulai dari pengelola gedung, demokrasi, dokumentasi, catering bahkan organ tunggal.

“Lewat simulasi wedding sistem hampers ini kami ingin memberikan solusi bentuk pernikahan yang lebih cocok untuk era new normal. Kami berharap pemerintah dapat mempertimbangkan model pesta pernikahan seperti ini, mengijinkan penyelenggaraan pernikahan seperti konsep ini,” jelas Nena.

Dalam simulasi tersebut, pihaknya juga meluncurkan aplikasi digital Nikahinaku. Ini adalah sebuah aplikasi untuk mempermudah calon pengantin dalam melaksanakan pernikahan yang aman tanpa ada kontak fisik antar pengantin dan tamu ataupun antar tamu dan tamu.

Melalui aplikasi digital Nikahinaku ini, undangan dikirim oleh pengantin melalui online, dari undangan online ini selanjutnya tamu akan bertemu di tempat pesta sambil bawa undangan online, kehadiran tamu di scan barcode, kotak angpau dipilih dari beberapa link yang sudah disiapkan oleh aplikasi ini. Dengan cara seperti ini kontak fisik selama berada di pesta pernikahan benar-benar bisa dihindari.

“Pengantin juga bisa mengecek berapa tamu yang datang, siapa saja yang datang, karena semua tercatat dengan baik melalui aplikasi ini,” lanjut Nena.

Sementara itu, anggota MPR Fraksi DPD DKI Jakarta Fahira Indris menyampaikan apresiasi terhadap ide wedding yang diselenggarakan PPJI DKI Jakarta dan PPJI Jakarta Barat. Menurutnya wedding dengan menerapkan protokol kesehatan dapat menjadi solsui di era new normal, dimana kasus Covid-19 belum juga melandai.

“Keinginan masyarakat untuk menggelar pesta pernikahan sudah muncul dimana-mana, di kampung-kampung saya lihat sudah mulai digelar. Dan ini harus diatur oleh pemerintah, agar pesta pernikahan tidak memicu munculnya kluster baru Covid-19,” kata Fahira.

Ia berharap pemerintah mengijinkan model pesta pernikahan sistem hampers seperti yang digagas oleh PPJI DKI Jakarta ini. Dengan demikian, industri wedding yang sudah mati suri sejak pandemi Covid-19 mewabah di Tanah Air, bisa bangkit kembali.

“Di Malaysia, Singapura dan beberapa negara lainnya, sudah boleh pesta pernikahan seperti ini. Jumlah tamunya dibatasi, keberadaan di ruangan wedding juga dibatasi, cukup datang, kasih selamat tanpa ada salaman, lalu pulang bawa hampers dan souvenir,” katanya.

Model pernikahan yang digagas PPJI ini, diakui Fahira lebih mudah untuk mengontrol pergerakan masyarakat, mengawasi potensi kerumunan orang dan kalau ada kasus yang muncul pasca pesta pernikahan, pelacakan kasus lebih mudah dilakukan.(ati)

Kredit

Bagikan