2021, Pertumbuhan Ekonomi RI Bakal Tumbuh 4,5-5,5 Persen

user
tomi 18 Juni 2020, 09:40 WIB
untitled

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kepala BKF Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali positif pada kisaran 4,5 – 5,5 persen. Angka ini akan menjadi asumsi dasar ekonomi 2021 yang tercatat dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEMPPKF). Asumsi APBN 2021 untuk dasar percepatan dan pemulihan dan reformasi perekonomian Indonesia.

"Asumsi dasar makro yang tercatat dalam KEM-PPKF diharapkan bisa menjadi dasar pemerintah memulihkan ekonomi nasional. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berada pada kisaran 4,5-5,5 persen,” kata Kepala BKF Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, pada acar Leadres talk via virtual, di, Jakarta, Rabu (17/6).

Dijelaskan dalam asumsi makro tersebut, selain pertumbuhan ekonomi 4,4 -5,5 persen, inflasi 2 – 4 persen, tingkat suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,67 persen sampai 9,56 persen nilai tukar rupiah Rp 14.900-Rp 15.300 per dolar AS.m Sementara harga minyak mentah Indonesia alias ICP dipatok 40-50 per dolar AS barel dengan lifting minyak bumi 677-737 ribu barel per hari. Adapun lifting gas bumi diperkirakan 1.085-1.173 ribu barel setara minyak per hari.

"Keinginan keluar dari middle income trap dalam jangka panjang menjadi landasan penyusunan KEM-PPKF. APBN 2021 diharapkan mampu mendukung, dengan risiko yang ada pemerintah usulkan asumsi makro yang akan digunakan dalam menyusun APBN 2021," kata Febrio.

Febrio juga mengatakan, pemerintah akan mengurangi secara bertahap angka defisit, kemudian kembali ke disiplin fiskal defisit APBN 3 persen dari PDB. Targetnya, paling lambat terjadi 2023. untuk defisit anggaran, diharapkan pada tahun 2022 juga akan mulai turun di bawah 3 persen,, bahkan melalui Perpres Nomor 54 Tahun 2020 sebagai aturan turunan Perppu Nomor 1 Tahun 2020, pemerintah memiliki fleksibilitas untuk mengubah target defisit APBN. Pemerintah bisa memperlebar defisit APBN dari batas aman dalam UU Keuangan Negara yakni 3 persen dari PDB.

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan juga masih tinggi. Ini merupakan konsekuensi dari membengkaknya belanja negara di saat penerimaan menurun. Kebijakan makro fiskal 2021 dirumuskan sebagai kebijakan yang ekspansif konsolidatif dengan defisit diperkirakan berada di 3,05 persen sampai 4,01 persen terhadap PDB.

Sementara untuk rasio utang pemerintah akan naik pada 2021 mendatang. Sebab, pemerintah akan melanjutkan penanganan dampak covid-19 dan pemulihan ekonomi di 2021. Rasio utang akan naik di sekitar 33,8 persen sampai 35,88 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk diketahui, dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, batas aman rasio utang yaitu 60 persen terhadap PDB. Pada April lalu, rasio utang pemerintah masih ada di kisaran 31,78 persen PDB. ( Lmg)

Kredit

Bagikan