Inflasi DIY 2020 Diperkirakan Dibawah Titik Tengah Sasaran

user
danar 04 Juni 2020, 10:30 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi DIY 2020 akan berada batas bawah titik tengah sasaran. Untuk memastikan tercapainya sasaran tersebut, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY berkomitmen terus memantau perkembangan harga dan kecukupan stok pangan serta pelaksanaan distribusinya.

"Kami akan terus meningkatkan sinergi dan koordinasi antar lembaga agar stabilitas harga di DIY dapat terus terjaga," ujar Kepala Perwakilan BI DIY Hilman Tisnawan di Yogyakarta, Rabu (3/6/2020).

Hilman menyampaikan DIY pada Mei 2020 mencatatkan inflasi yakni 0,22 persen (mtm). Dengan realisasi tersebut, laju inflasi DIY secara akumulatif sampai dengan Mei 2020 tercatat 0,72 persen (ytd) atau secara tahunan yakni 2,09 persen (yoy).

" Inflasi bulanan DIY tersebut merupakan yang tertinggi di Jawa. Walaupun demikian capaian inflasi tahunan DIY sedikit lebih rendah dibanding inflasi Nasional, yaitu 2,19 persen (yoy), namun masih berada pada batas bawah sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0 persen ±1 persen (yoy)," tandasnya.

Wakil Ketua TPID DIY ini menjelaskan tekanan inflasi DIY maupun nasional pada Mei 2020 disebabkan oleh inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices). Adapun inflasi inti (core inflation) relatif stabil, sementara kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) masih mengalami deflasi. Inflasi administered prices mengalami peningkatan seiring aktivitas ekonomi yang mulai berjalan. Tarif angkutan udara pada Mei 2020 mengalami inflasi 15,6 persen (mtm), setelah dalam 4 bulan terakhir telah turun 19,9 persen (ytd).

"Dibukanya kembali aktivitas bandara pada Mei 2020 diiringi dengan pembatasan jumlah kursi penerbangan sebesar 50 persen. Hal ini menyebabkan maskapai mulai meningkatkan tarif angkutan udara, untuk mengkompensasi kerugian akibat penurunan jumlah kursi," imbuh Hilman.

Dalam kondisi ini, Hilman menekankan perlu diwaspadai dampak Covid-19 yang telah menyebabkan penurunan penyerapan komoditas pokok di DIY. Deflasi pangan telah terjadi tiga bulan berturut-turut. Bahkan deflasi pangan juga terjadi pada momentum lebaran 2020, dimana pada umumnya terjadi inflasi.

"Hal ini menyebabkan kerentanan bagi produsen dalam menjaga daya jualnya. Untuk itu, upaya pemerintah untuk menggerakkan ekonomi perlu didukung, dengan tetap memastikan protokol kesehatan menjadi prioritas utama saat ini," pungkasnya. (Ira)

Kredit

Bagikan