Pandemi Covid-19 Baru Mereda di Semester II/2020, Ekonomi Baru Menanjak di 2021

user
tomi 25 Mei 2020, 12:08 WIB
untitled

CHIEF Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mencoba memprediksi dan mengulas pasar global dan domestik sepanjang pandemi Covid-19. Ada beberap hal yang menjadi perhtiannya, seperti berikut.

Update COVID-19

Ternyata di negara-negara yang sempat di vonis kritis, ada banyak perbaikan. Kurva pertambahan jumlah penderita sudah melandai, yang berarti penyebaran virus Corona semakin terkendali. Jumlah pertambahan kasus harian pun semakin turun. Kesimpulannya, pengorbanan kita berdiam #DiRumahAja tak sia-sia.

Sementara beragam stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan pemerintah banyak negara di dunia sepanjang Maret, April dan nampaknya masih akan diteruskan di bulan-bulan ke depan, juga berhasil meredakan kepanikan pasar finansial. Indeks VIX yang menggambarkan volatilitas sudah turun dari level 90an ke level 30an, walaupun belum kembali ke level 15an seperti pada saat-saat normal. Hal ini merupakan perbaikan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan nilai tukar Asia yang tercermin dari Indeks ADXY yang sepanjang April perlahan meningkat dan mengindikasikan mata uang Asia mulai kembali bangkit dari posisinya terhadap dolar AS saat pasar sedang panik-paniknya di Maret lalu.

Kondisi perekonomian global terkini

Perlambatan akibat pandemi sudah terjadi di kuartal I lalu, seluruh dunia sudah terkena dampak ekonomi dari COVID-19. Aktivitas manufaktur maupun jasa cukup dalam terpuruk. Pelemahan ekonomi yang terjadi saat ini sudah tak lagi mengejutkan pasar, karena memang sudah diprediksi. Yang menjadi fokus kita adalah bukan berapa besar pelemahannya, tapi berapa lama hal ini akan berlangsung.

Proyeksi perekonomian global

Di tahun 2020, pertumbuhan ekonomi dunia sudah diprediksi akan negatif. Akan tetapi dalam _scenario based line_, dengan asumsi pandemi reda di semester II tahun 2020, dan upaya penurunan wabah secara gradual berhasil dilakukan, maka diprediksi perekonomian global dapat melesat 5,8% di 2021. Tentunya didukung dengan kebijakan dan stimulus dari seluruh dunia. Sekali lagi harus diingat, tetap masih ada risiko, pandemi belum dapat dikendalikan di semester II tahun 2020, maka upaya penurunan wabah dan kebijakan stimulus dunia sampai beberapa saat kedepan, serta keikutsertaan kita semua saat ini untuk tetap #DiRumahAja masih sangat krusial.

Kinerja pasar finansial domestik April 2020

Kebijakan tanggap dari pemerintah dan bank sentral dunia termasuk Indonesia, dalam meredakan kepanikan pasar terbukti sangat mempengaruhi dinamika pasar modal serta nilai tukar. Stimulus fiskal, moneter, kebijakan PSBB, larangan mudik, ini semua dianggap tepat dan menenangkan pasar. Sepanjang April kemarin, pasar saham menguat 3,91% Month on Month (MOM), dan pasar obligasi menguat 1,78% MoM.

Di April kemarin rupiah juga menguat. Hal ini sekaligus menunjukkan koreksi tajam di Maret kemarin telah melampaui nilai fundamentalnya. Bahkan Bank Indonesia (BI) telah menyatakan bahwa, kebutuhan untuk melakukan intervensi pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah supaya tak terus melemah saat ini sudah semakin minimal.

Ekonomi domestik

Akan tetapi sama di negara-negara lain di seluruh dunia, pelemahan sudah terlanjur terjadi. Dampak ekonomi COVID-19 mulai terlihat pada data ekonomi domestik. Indikator utama seperti realisasi penanaman modal asing, manufaktur PMI, indeks keyakinan konsumer dan penjualan ritel, semuanya menunjukkan penurunan tajam di bulan Maret. Ini sudah diprediksi dan bukan hal yang mengagetkan. Tapi dengan asumsi dunia dan termasuk Indonesia sudah bisa mengendalikan wabah COVID-19 di semester II tahun 2020 ini, perbaikan gradual diperkirakan akan terjadi.

Kunci pemulihan ekonomi

Dia menjelaskan karena semua kondisi tadi diprediksi dengan asumsi semua wabah COVID-19 bisa dikendalikan di semester II, mari kita simpulkan. Rumus dari pemulihan ekonomi adalah uji cepat COVID-19 dapat berjalan ditambah pelacakan yang dilakukan agresif serta penurunan jumlah kasus.

"Ini menghasilkan pelonggaran PSBB yang berarti juga roda perekonomian bisa kembali berputar. Lalu apa yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengupayakan itu semua. Peningkatan kapasitas uji cepat (peningkatan kapasitas dari 2.000 – 17.000 tes per hari), perbaikan transparansi informasi (jumlah ODP dan PDP dipublikasi), perbaikan infrastruktur kesehatan (kemudahan produksi/impor APD dan benda medis lainnya), PSBB atau pembatasan sosial yang masih cukup fleksibel (memastikan kelancaran logistik essential business," katnya,

Hal ini, katanya tak akan terlaksana jika kita tak membantu. Dengan mematuhi anjuran pemerintah, kita dapat meningkatkan probabilita terkendalinya COVID-19 segera. Yang artinya, Indonesia dapat segera mulai memasuki tahap pemulihan perekonomian. (*)

Kredit

Bagikan