Imbas Kenaikan BBM Non Subsidi dan Kurs Rupiah Minim Terhadap Inflasi

user
tomi 30 Oktober 2018, 20:22 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) varian Pertamax Series dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih minim dampaknya terhadap inlasi DIY pada Oktober 2018.

Optimisme capaian inflasi tersebut berkat tercukupinya ketersediaan komoditi bahan pangan diserta industri maupun masyarakat  di DIY yang belum banyak yang mengkonsumi BBM Khusus tersebut sehingga tidak terlalu menguncang inflasi daerah.

Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY Budi Hanoto mengaku pihaknya belum menghitung sejuah mana dampak kenaikan BBM non subsidi khususnya Pertamax Series terhadap inflasi. Mengingat industri maupun moda transportasi umum baik angkutan penumpang dan angkutan  barang di DIY tentunya sangat minim menggunakan varian BBM Pertamax Series dan BBM khusus ini mayoritas dikonsumsi masyarakat kelas menengah ke atas.

" Jikapun ada industri yang menggunaan Pertamax, mereka tidak serta menaikkan harga jualnya. Dia biasanya menyerap profit margin terlebih dahuku, baru melakukan rekalkulasi sebelum akhirnya memutuskan menaikan harga jual produknya. Pelaku usaha memilih menekan keuntungannya dapripada menaikan harga jual barangnya malah tidak laku nantinya," jelas Budi Hanoto dikantornya, Selasa (30/10).

Budi mengatakan ada suatu masa pelaku usaha melakukan perhitungan kembali atau rekalkulasi biaya produksinya dan tidak serta merta menaikkan harga paska penyesuaian harga BBM. Pelaku usaha lebih memilih menahan diri dan mengurangi keuntungan yang selama daripada harus menaikkan harga produkunya. Artinya dampak kenaikan harga BBM Pertamax series terhadap inflasi DIY sangat kecil, berbeda apabila terjadi penyesuaian BBM bersubsidi seperti Premium dan Bio Solar yang banya dikonsumsi masyarakat.

" Jadi dari sisi adminstered prices tampaknya berdampak minim terhadap inflasi. Sementara dari sisi komponen volatile food, memang perlu dicermati meskipun dampaknya belemu begitu besar mengingat terdapat sejumlah komoditi bahan pangan yang masih harus impor yang kini terdampak penguatan dolar AS sehingga akan mengerek harga produk impor," paparnya. (Ira)

Kredit

Bagikan