Kinerja Perbankan DIY Membaik, Penyaluran Kredit UMKM Mendominasi

user
danar 17 Agustus 2022, 23:10 WIB
untitled

YOGYA, KRJOGJA.com - Penyaluran kredit perbankan di DIY pada Juni 2022 mengalami peningkatan dibandingkan Mei 2022, diiringi dengan perbaikan kualitas penyaluran kredit yang ditunjukkan dari rasio Non performing loan (NPL) yaitu dari 3,57% pada Mei 2022 ke 3,46% pada Juni 2022. Sedangkan Loan Deposit Ratio (LDR) 61,10% mengalami penurunan apabila dibandingkan Mei 2022.

Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Parjiman mengatakan kinerja perbankan DIY secara umum mengalami pertumbuhan baik dari sisi aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kredit pada Juni 2022 dibandingkan bulan sebelumnya. Aset perbankan DIY tumbuh 6,67% (yoy) menjadi sebesar Rp 99.545 miliar, DPK tumbuh 5,80% (yoy) menjadi Rp 83.572 miliar dan kredit 6,19% (yoy) mencapai Rp 51.065 miliar pada Juni 2022.

"Kredit UMKM Perbankan di DIY pun tumbuh sebesar 20,96% (yoy) yang mencapai Rp 25.312 miliar pada Juni 2022 atau naik 19,9% (yoy) yang mencapai Rp 24.812 miliar pada Mei 2022 dan 7,17% (ytd). Rasio NPL tumbuh 3,93% pada Juni 2022 dan 4,07 % pada Mei 2022," ujarnya di Yogyakarta, Rabu (17/8/2022),

Parjiman menyampaikan penyaluran kredit perbankan di DIY secara umum masih didominasi penyerapannya oleh kredit UMKM daripada non UMKM. Tercatat hingga Juni 2022, kredit UMKM DIY yang berhasil tersalurkan mencapai Rp 25.753 miliar atau 50,34% dari total kredit, sisanya diserap non UMKM sebesar Rp 25.312 miliar atau 49,57%.

"Pembiayaan UMKM perbankan DIY sendiri masih didominasi penyalurannya oleh Bank Umum sebesar Rp 21.677 miliar atau 85,72%. Sementara itu, sisi penyaluran kredit UMKM BPR/BPRS di DIY sebesar Rp 3.614 milar atau hanya 14,28% dari total pembiayaan yang telah dikucurkan perbankan di DIY hingga Juni 2022," imbuhnya.

Menurut Parjiman, terdapat permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi pelaku usaha mikro dan usaha mikro menengah saat ini. Permasalah usaha mikro yaitu persepsi risiko tinggi, kemampuan memenuhi persyaratan kredit terbatas, pencatatan keuangan kurang memadai dan kurangnya literasi keuangan. Lalu tantangan literasi keuangan, perlu klasterisasi, literasi digital dan edukasi.

"Pelaku UKM sendiri juga mempunyai masalah seperti produk pembiayaan kurang variatif dan suku bunga masih tinggi. Belum lagi tantangan yang menghadang antara lain perlu alternatif kredit, suku bunga rendah dan skema pembiayaan sesuai nature dari UMKM," tandasnya.

Tidak lupa, OJK juga memberikan dukungan penuh terhadap UMKM DIY diantaranya membentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan Website KUR Jogja. Kemudian kredit melawan rentenir, alternatif pembiayaan seperti Fintech Peer to Peer (P2P) Lending dan Securities Crowdfunding (SCF) serta sosialisasi dan edukasi kepada pelaku UMKM. (Ira)

Kredit

Bagikan