Waspada! Resesi 2023 Menghadang

user
Danar W 06 Oktober 2022, 06:10 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Ancaman resesi 2023 ikut disorot oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Resesi 2023 dikhawatirkan lebih parah dari krisis 2007-2009.

Prediksi resesi itu dirilis oleh UN Conference on Trade and Development (UNCTAD). Semua kawasan di dunia akan terdampak, terutama negara-negara berkembang.

"UNCTAD memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat ke 2,5 persen di 2022 dan jatuh ke 2,2 persen di 2023. Global slowdown akan membuat GDP riil masih tetap di bawah trend pra-pandemi, merugikan dunia sebesar US$ 17 triliun - hampir 20 persen pendapatan dunia," tulis laporan UNCTAD di situs resminya, Rabu (5/10/2022).

Negara-negara yang terdampak tajam adalah negara berkembang di Amerika Latin dan negara pendapatan lemah di Afrika.

Berdasarkan data UNCTAD, Indonesia akan menjadi negara kedua di negara G20 yang paling rugi dalam hal kehilangan potensi ekonomi. Posisi Indonesia tepat berada sebelum Rusia yang sedang kena sanksi internasional.

Ketua UNCTAD Rebeca Grynspan berkata masih ada harapan bagi dunia. Namun, butuh kemauan politik untuk mewujudkan hal tersebut.

"Masih ada waktu untuk mundur dari ujung resesi," ujar Rebeca Grynspan. "Ini adalah masalah pilihan kebijakan dan kemauan politik," kata Grynspan.

Salah satu dari tiga solusi yang diminta UNCTAD adalah agar para bank sentral di negara maju untuk menaikkan tingkat suku bunga.

Lebih lanjut, para negara maju diminta agar menghindari kebijakan pengeluaran yang ketat (austerity). Para organisasi internasional turut diminta membuat arsitektur multilateral agar negara-negara berkembang bisa memiliki ruang fiskal yang lebih besar dan mendapat proses pengambilan keputusan yang lebih adil.(*)

Kredit

Bagikan