Ekonomi 2023 Optimis, Namun Tetap Waspada

user
Danar W 03 November 2022, 19:50 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Kondisi perekonomian ekonomi Indonesia pada 2023 bakal optimis namun tetap waspada. Hal itu seiring adanya tantangan ekonomi yang berbeda di tahun depan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama kendala dari sisi supply akibat dampak pandemi Covid-19 maupun kondisi global dan geopolitik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Budiharto Setyawan mengatakan kembali seperti yang Menteri Keuangan dan Gubernur BI yang menekankan pihaknya tetap perekonomian optimis tetapi tetap waspada pada 2023 mendatang. Di sisi lain, ekonomi Indonesia bersifat terbuka sehingga tidak lepas dari kondisi global serta dampak dari geopolitik.

"Jangan terlalu ditakuti-takuti karena akan membentuk ekspektasi, ini yang tidak kita inginkan. Jadi di DIY dari berbagai diskusi yang kita lakukan, semua ekspektasi ekonominya masih positif. Apalagi masih ada pengusaha di DIY yang berani mengambil risiko sebagai strategi yang memang dimilikinya karena mereka mampu melihat sesuatu yang kita tidak bisa melihat," kata Budiharto dalam Focus Discussion Group (FGD) Perekonomian DIY Terkini dan Prospek Ekonomi DIY Akhir Tahun 2023 kerjasama BI DIY dengan ISEI Cabang Yogyakarta, Kadin DIY dan SKH Kedaulatan Rakyat di Resto Racikan & Kopi Ponti Yogyakarta, Kamis (3/11/2022).

Budiharto menyampaikan termasuk kebijakan nilai tukar yang tidak terlepas dari kondisi Fed Fund Rate sehingga ikut memberikan tekanan kepada nilai tukar Rupiah. Namun, manajemen nilai tukar menjadi kebijakan pusat, sedang daerah hanya mengikuti. Kebijakan BI sendiri adalah mengeluarkan kebijakan preventif sehingga diharapkan agresivitas dari para mitra-mitra dagang utama bisa diimbangi. Khususnya dampak imported inflation yang coba dihindari.

"BI selalu mengikuti perkembangan harga yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Ada dua sisi yang menjadi 'concern' BI daerah yaitu pertumbuhan ekonomi kita mendapatkan optimisme dan perkembangan harga yang tercermin dari inflasi perlu diperhatikan lebih ketat karena tekanannya cukup berat dari ketidakpastian global maupun dalam negeri sendiri. Terlebih kita akan memasuki siklus HBKN Natal dan Tahun Baru sehingga tekanannya lebih tinggi selama dua bulan kedepannya," terangnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Parjiman memprediksi industri jasa keuangan masih optimis dengan sedikit koreksi terhadap pertumbuhan kredit yang hanya bisa mencapai sekitar 12 persen. Namun sayangnya kondisi global dan geopolitik masih membayangi demikian pula kondisi sektor riil yang akan terpengaruh kondisi geopolitik seperti perang Rusia dan Ukraina yang tidak kunjung berakhir.

"Oleh karena itu, kami mengantisipasi terkait restrukturisasi kredit yang terus dikaji yang akan diterapkan secara kewilayahan. Dalam arti, tidak semua wilayah di Indonesia itu sama perlakuannya terhadap restrukturisasi keringanan kredit. Karena ada isu baru geopolitik global tersebut akhirnya kami terus mengkaji dalam rangka finalisasi untuk stimulus keringanan kredit itu akan diberlakukan diperpanjang kembali atau tidak, " papar Parjiman.

Ketua ISEI Cabang Yogyakarta Eko Suwardi pun mengakui harus tetap waspada terhadap resesi dan waspada terhadap kesehatan kedepannya karena kasus Covid-19 di DIY kembali meningkat. Dirinya sekaligus menyoroti tata kelola dan tata niaga pemerintah yang sangat penting tersebut perlu mendapat perhatian khusus.

"Secara keseluruhan, teman teman pelaku usaha di DIY cukup optimis kedepannya. Meskipun masih ada pengusaha yang belum bergerak masih menunggu perpanjangan kebijakan stimulus restrukturisasi kredit. Harapannya pengusaha tidak terlalu expand untuk hal-hal yang tidak penting," imbuh Wakil Ketua Umum Kadin DIY Wawan Hermawan.

Senada, Ketua Kafegama DIY yang juga merupakan pengusaha hotel dan apartemen, Bogat Agus Riyono sependapat pengusaha optimis seiring adanya demand tetapi perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah. Pengusaha yang tetap berani meniti buih risiko pun tetap berhati-hati dalam menjalankan bisnis. Dunia usaha juga tengah dipengaruhi kecemasan akan mencuatnya isu resesi saat ini sehingga konsumen cenderung wait and see.

"Melihat perkembangan pasca pandemi Covid-19, maka optimis ekonomi DIY tetap bertumbuh dengan representasi kunjungan wisatawan di DIY sudah meningkat. Optimisme berikutnya banyaknya perguruan tinggi yang membuka pembelajaran tatap muka dengan tetap mengetatkan prokes maupun vaksinasi. Wisatawan yang rekreasi di DIY meningkatkan 3 persen berdasarkan Google Mobility Indeks," tutur perwakilan Kafegama DIY Rudy Badrudin.

Sementara itu, Perwakilan Bank BPD DIY M Munif Ridwan didampingi Sigit Sugiharto mengungkapkan kondisi Bank BPD DIY diperkirakan tetap aman sampai akhir 2922 dan masih lebih baik dibandingkan dengan 2023 mendatang. Yang masih belum jelas, dunia perbankan masih dihadapkan pada kondisi yang berkaitan dengan potensi munculnya kredit bermasalah dan perpanjangan restrukturisasi kredit kedepannya.

"Saya melihat kegiatan perekonomian di DIY sudah membaik saat ini. Namun perlu dicermati inflasinya apabila demand-nya naik," ujar perwakilan ISEI Cabang Yogyakarta Bakti Wibawa.

Dosen FBE UAJY yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y Sri Susilo menyebut sejumlah indikator ekonomi DIY pada 2022 seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang mendukung ke arah optimisme untuk ekonomi DIY 2023. Di sisi lain, meskipun optimis tetapi harus waspada karena melemahnya kurs rupiah dan kemungkinan permintaan produk ekspor di pasar dunia berkurang. Selain itu, krisis pangan dan energi yang masih berlanjut. (Ira)

Kredit

Bagikan