Hilirisasi Industri, Inalum Didorong Tingkatkan Produksi Hingga 1 Juta Ton

user
Danar W 25 November 2022, 03:32 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Direktur Logam Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI, Liliek Widodo, menyatakan saat ini pemerintah tengah mewujudkan hilirisasi industri. Terutama industri yang berbasis mineral seperti timah, aluminium, hingga emas. Karenanya PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) terus didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium. Hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik yang mencapai 1 juta ton aluminium.

"Kami yakin bahwa PT Indonesia Asahan Aluminium sebagai industri hilir dari alumunium akan menjadi industri yang besar. Kenapa karena negara yang maju negara yang besar itu industri dasarnya pasti gede pak," ujar Liliek saat menghadiri acara Customer Gathering Inalum di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Selasa (22/11/2022).

Liliek merasa dengan hilirisasi industri ini maka Indonesia dapat mengurangi impor karena bahan baku sudah terpenuhi di dalam negeri. Nilai tambah akan bisa lebih ditingkatkan dengan mengolah berbagai produk turunan.

Lebih lanjut, Liliek mengamini kalau salah satu tantangan yang dihadapi Inalum adalah peningkatan produksi.

"Jadi produksi kita masih seperempat dari kebutuhan nasional. Kalau kebutuhan kita 1 juta (ton) di Inalum baru bisa produksi 250 ribu (ton). Jadi peluang untuk mengisi pasar itu masih besar," tutur Liliek.

Menanggapi hal tersebut SEVP Pengembangan Bisnis PT Inalum, Oktavianus Tarigan, mengungkapkan kapasitas produksi Inalum saat ini adalah 250 ribu ton dan akan terus ditingkatkan.

"Pabrik peleburan alumunium kita 1 ya bisa dikatakan 1 (jumlahnya). Total produksi 250 ribu (ton)," kata Okta.

Satu pabrik di smelting atau peleburan di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, itu dalam waktu 2-3 tahun akan ditingkatkan kapasitas produksinya menjadi 50 ribu ton. Sehingga bisa memproduksi total 300 ribu ton.

"Dalam waktu 2-3 tahun ini itu bisa kita tingkatkan dengan cara meng-upgrade atau mengoptimalkan pabrik yang ada itu bisa sampai dengan 50 ribu nambahnya," ujar Okta.

Selain itu, PT Inalum juga merencanakan untuk membuat pabrik baru. Dengan pabrik baru itu maka peningkatan produksi akan jauh lebih signifikan.

Okta menjelaskan bahwa pabrik di Kuala Tanjung sebenarnya bisa dikembangkan 3 kali lipat. Hal itu karena di sana masih tersedia lahan cukup luas dan fasilitas yang menunjang.

"Contohnya seperti pelabuhan, fasilitas yang lain juga tersedia sehingga yang kami butuhkan kali ini adalah yang utama adalah listrik karena untuk bangun smelter baru butuh listrik yang besar. Sekarang kami lagi sedang bicara dengan PLN mudah-mudahan ada solusi," katanya.

Okta mengakui PT Inalum memiliki PLTA, tetapi itu hanya cukup untuk jumlah produksi saat ini. Jika kebutuhan listrik tercukupi, maka bukan tidak mungkin produksi 1 juta ton alumunium bisa tercapai.

"(Target) 4 tahun itu 700 sampai 1 juta (ton) bergantung ketersediaan listrik itu tadi. Mudah-mudahan itu bisa memenuhi kebutuhan domestik," ungkap Okta.

Okta mengungkapkan pelanggan Inalum berasal dari berbagai perusahaan seperti ekstrusi, otomotif, hingga kabel. Menurutnya, hampir seluruh produksi dari Inalum diserap oleh pasar domestik.

"Secara umum hampir seluruh hasil produksi kita (250 ribu ton) bisa diserap oleh mereka cuma memang demand dari domestik masih melebihi produksi kita. Itu memang jadi tantangan kita ke depan bagaimana menutup kebutuhan mereka. Itu memang dalam jangka waktu menengah dan panjang kita akan ekspansi," ungkap Okta.

Ada 3 produk Inalum yaitu alumunium ingot, billet, dan alloy. Ingot masih menjadi yang paling dibutuhkan. Ingot merupakan bahan baku untuk berbagai produk akhir seperti kabel, komponen otomotif, kontruksi bangunan, dan lain-lain.

"Jadi yang paling banyak adalah ingot mereka butuhnya banyak ingot. Kalau billet atau alloy itu ini khusus untuk spesifik dibutuhkan untuk industri. Untuk alloy untuk velg otomotif ya," pungkas Okta.(*)

Kredit

Bagikan