BI Terus Kembangkan Rupiah Digital dan Waspadai Ancaman Resesi

user
Tomi Sujatmiko 11 Januari 2023, 09:05 WIB
untitled

Krjogja.com - SEMARANG - Departemen Komunikasi Bank Indonesia (Dekom BI) menyelenggarakan focused group discussion (FGD) terbatas dengan perwakilan akademisi dan lembaga riset. Diskusi tersebut diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah (Sabtu, 07/01/23). Topik pokok diskusi terkait dengan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 22-23 Desember 2022.

Hadir selaku narasumber Wahyu Agung Nugroho (Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI), Irman Robinson (Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI), Ryan Rizaldy (Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI). Bertindak selaku moderator adalah Junanto Herdiawan (Direktur Departemen Komunikasi BI). Acara FGD tersebut dibuka oleh Erwin Haryono (Kepala Dekom BI) dengan sambutan pengantar diskusi.

"Perekonomian global menurun disertai dengan ketidakpastian yang masih tinggi”, tegas Wahyu Agung Nugroho terkait kondisi perekonomian tahun 2023.

Selanjutnya Wahyu Agung menyatakan pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia tetap baik. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap kuat sehingga mendukung ketahanan eksternal. Dengan langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Ekspektasi inflasi dan inflasi secara bulanan terus menurun dan lebih rendah dari prakiraan awal, meskipun masih tinggi”, jelas Wahyu Agung terkait kondisi inflasi.

Selanjutnya likuiditas perbankan dan perekonomian masih memadai untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayan dan pemulihan ekonomi lebih lanjut. “Suku bunga perbankan juga masih kondusif mendukung pemulihan ekonomi”, tegas Wahyu Agung.

Pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya efek luka memar (scarring effect) bagi pelaku usaha, baik masyarakat dan korporasi termasuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Efek luka memar di masyarakat yang membuat pertumbuhan ekonomi menjadi tidak maksimal. Untuk diketahui, scarring effect adalah kondisi di mana masyarakat takut untuk membelanjakan dan menginvestasikan uangnya.

“Dampak dari scarring effect menjadi pemulihan sektor usaha menjadi lama”, jelas Irman Robinson. Menurut Irman, beberapa sektor usaha termaksud hotel dan restoran, transportasi udara dan industri alas kaki. Pemulihan yang lama tersebut dipengaruhi oleh belum pulihnya penjualan dan pengeluaran modal untuk penambahan aset tetap perusahaan (capital expenditure). Terkait dengan hal tersebut Bank Indonesia berupaya mengoptimalkan intermediasi sektor keuangan dengan korporasi, UMKM dan rumah tangga, untuk mdnorong percepatan pemulihan tersebut.

“Rupiah digital adalah mata uang digital bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC)”, jelas Ryan Rizaldy. Selanjutnya Ryan menjelaskan bahwa CBDC berbeda dengan uang elektronik, kartu kredit, atau dompet elektronik, seperti Gopay dan OVO. Menurutnya, mata uang digital diterbitkan oleh bank sentral. Sementara, kartu kredit dan kartu debit diterbitkan oleh bank umum. Sementara itu, uang elektronik dan dompet elektronik yang menerbitkan adalah bank umum dan perusahaan non bank.

Banyak bank sentral di dunia berhati-hati dan terus mempelajari kemungkinan dampak dari CBDC tersebut, termasuk Indonesia. “Bank Indonesia terus mendalami CBDC dan pada saat ini berada pada tahap untuk mengeluarkan white paper pengembangan rupiah digital”, jelas Ryan Rizaldy.

HALAMAN

Kredit

Bagikan