Perekonomian DIY Optimis Terukur Tetap Tumbuh

user
Danar W 18 Januari 2023, 20:30 WIB
untitled

Krjogja.com - BANTUL - Berbagai proyek-proyek strategis di DIY yang bersifat jangka panjang memang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, mengentaskan kemiskinan hingga berujung kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, proyek strategis tersebut harus dikelola dengan baik, hati-hati dan cermat supaya berkesinambungan sehingga mampu memberikan landasan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi DIY.

Perekonomian DIY pun optimis terukur tetap tumbuh seiring meredanya pandemi Covid-19 dan dicabutnya status PPKM. Ditambah dengan bangkit industri pariwisata dan dibukanya pendidikan tatap muka, maka dipastikan perekonomian DIY tidak akan jatuh alias tetap berjalan. Namun perlu diwaspadai dan tidak menyepelekan akan kondisi global serta perang geopolitik Rusia dengan Ukraina.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Tim Pelaksana Percepatan Pembangunan Program Prioritas (TP5) DIY Miyono dalam Dialog Santai Isu Perekonomian Terkini di Bantul, Rabu (18/1/2023). Dialog yang dimoderatori oleh Dosen FBE UAJY/Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y Sri Susilo tersebut dihadiri perwakilan dari perbankan, ISEI Cabang Yogyakarta dan pengusaha.

Miyono menyampaikan setidaknya ada 12 proyek strategis di DIY seperti Jalan Tol, KPBU TPST Piyungan, SPAM Kamijoro, Aerotropolis dan sebagainya masih dalam proses yang bersifat multiyears atau jangka panjang. Berbagai proyek strategis tersebut memiliki tantangan tersendiri, antara lain pembangunan Jalan Tol dan KPBU TPST Piyungan, namun dipastikan masih berjalan dengan baik.

Proyek strategis ini terus digarap sehingga mempercepat dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi maupun menyelesaikan permasalah yang ada seperti persoalan sampah dan sebagainya.

"DIY kuncinya cuma satu jika pariwisata dan pendidikan sudah pulih, kita tidak perlu khawatir pertumbuhan ekonomi DIY. Tidak mungkin jatuh pertumbuhan ekonominya karena hampir 63 persen itu disumbang konsumsi. Saya lihat sekarang bus-bus sudah banyak yang parkir dan jalanan sudah macet, jadi saya masih optimis perekonomian DIY masih tetap tumbuh kedepannya tetapi tetap harus hati-hati. Selain pariwisata, sektor pertanian di DIY juga harus ditingkatkan dan dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tutur Mantan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY ini.

Asisten Deputi Kepala BI DIY Rifat Pasha menyoroti dari perspektif makro, gambaran keseluruhan perekonomian DIY pada 2022 positif di tengah risiko global yang masih tinggi. Terlihat pertumbuhan ekonomi DIY Triwulan III 2022 masih luar biasa mencapai 5,8 persen yang lebih tinggi dari rata-rata Nasional maupun Pulau Jawa. Hal tersebut didorong oleh ekonomi kerumunan yang luar biasa dan pembelajaran tatap muka penuh. Pada Triwulan IV 2022, diproyeksikan perekonomian DIY masih tumbuh positif jika dilihat qtq, sedangkan secara magnitude tahunannya memang lebih rendah dari Triwulan III 2022.

"Kita membacanya perekonomian DIY masih tumbuh positif. Memang inflasi kita masih relatif tinggi diatas Nasional maupun rata-rata Pulau Jawa yang disebabkan faktor global dan momentum pertumbuhan ekonomi yang berlanjut. Selanjutnya, ditambah respon kebijakan pemerintah dengan penyesuaian harga BBM menjadi faktor yang mendorong inflasi ditambah listrik, angkutan udara dan beras," terangnya.

Rifat menekankan yang menjadi permasalahan perekonomian DIY setidaknya 63 persen ditopang oleh konsumsi, padahal pertumbuhan konsumsi DIY di bawah Nasional yang tumbuh sekitar 5 persen. Artinya, penggerak perekonomian DIY adalah orang luar seperti wisatawan dan mahasiswa yang tercatat sebagai ekspor jasa. Artinya disini konsumsi kelas menengah harus ditingkatkan.

"Yang menjadi masalah dan PR besar tidak lain angka kemiskinan di DIY masih tinggi. Jadi analisis kita, pertama, kontribusi sektor - sektor industri makin turun seperti pengolahan makin turun sehingga mempengaruhi penghasilan orang-orang yang bekerja di sektor tersebut. Kedua, mayoritas orang miskin ada petani dimana nilai tukarnya makin naik dan ketiga ukuran dari kemiskinan dari konsumsi yang cenderung rendah. Terakhir, pariwisata DIY masih berbasis mass tourism sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kurang, sehingga perlu diarahkan pada quality tourism," jelasnya.

Menurutnya, kesimpulan yang dapat diambil untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIY berupa meningkatkan pariwisata yang berkualitas, meningkatkan produktivitas pertanian dan mendorong penekanan inflasi. Sebab Garis Kemiskinan DIY masih tinggi. Tantangan 2023, ketidakpastian global masih tinggi, termasuk menguatnya Dollar Amerika Serikat. Diperkirakan inflasi mulai melandai memasuki Semester II 2023, namun dorongan domestik masih kuat sehingga magnitude tidak sebesar 2022.

Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY Dian Ariani menyatakan pihaknya pun tidak ketinggalan turut berperan serta mendorong akselerasi pemulihan ekonomi daerah pasca pandemi, seperti mendukung pembangunan infrastruktur daerah. Sebab proyek-proyek pemerintah arahnya lebih kepada pembangunan infrastruktur di daerah, salah satunya pembangunan Jalan Tol di DIY dimana Bank BPD DIY terlibat dalam kredit sindikasi.

"Efek pembangunan Jalan Tol tersebut pasti akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitarnya semakin pesat. Ini yang kita siapkan dan dukung pembangunan infrastruktur di daerah sepenuhnya. Meski proyek pembangunan Jalan Tol tersebut baru akan berjalan di tahun 2023 ini, pastinya akan membantu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di DIY," paparnya.

Dian menegaskan banyak yang menilai kondisi perekonomian pada 2023 masih unpredictable, namun industri perbankan seperti Bank BPD DIY tetap optimis seiring meningkatnya mobilitas seperti banyaknya wisatawan dan mahasiswa yang sudah mulai ramai kuliah offline paling tidak sudah menggerakkan kembali pertumbuhan ekonomi di DIY.

Bank BPD DIY sendiri mempunyai tiga sektor utama yaitu pendidikan, kesehatan dan pariwisata yang akan lebih ditingkatkan pada 2023 ini.

"Kita tidak bisa melepaskan dari era digital dengan berperan mewujudkan ekosistem digital seperti implementasi QRIS, CMS dan lainnya. Upaya mewujudkan ekosistem digital tersebut harus dengan kolaborasi bersama," tambahnya.

Senada, Anggota Tim Ahli ISEI Cabang Yogyakarta Fahmy Radhi mengaku perekonomian DIY optimis tetap tumbuh nantinya berdasarkan capaian selama ini. Meskipun masih terjadi perang Rusia dengan Ukraina, justru Indonesia mendapatkan berkah dengan naiknya penjualan komoditi energi seperti batu bara. Berkah tersebut diperkirakan masih akan menopang pertumbuhan ekonomi pada 2023 ini.

Selanjutnya, inflasi masih harus tetapi disikapi dengan hati-hati seiring fluktuasi harga minyak dunia. Kebijakan penetapan harga elpiji 3 kg juga akan mempengaruhi inflasi dan pemerintah sudah mulai serius membatasi agar penggunaan gas bersubsidi tepat sasaran.

"Fondasi pertumbuhan ekonomi DIY adalah pariwisata, maka pembangunan infrastruktur memang penting seperti pembangunan Jalan Tol. Adanya Jalan Tol ini perlu diantisipasi apakah meningkatkan pertumbuhan atau justru tidak," tandasnya.

Direktur Utama The Alana Group Bogat Agus Riyono menegaskan dirinya justru optimis pariwisata di DIY akan tumbuh dengan adanya Jalan Tol. Sebab kekuatan DIY sebagai sebuah destinasi pariwisata yang mempunyai daya tarik besar tidak perlu diragukan lagi.

"Tidak hanya Jalan Tol yang perlu diperhatikan, tetapi infrastruktur yang terhubung di seluruh wilayah DIY seperti akses ke Gunungkidul dan lainnya. Hal itulah yang akan ikut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Jadi saya optimis tetap tumbuh," pungkas Bogat. (Ira)

Kredit

Bagikan