Pemulihan Ekonomi  DIY Jadi Salah Satu Yang Tercepat di Indonesia

user
Ary B Prass 22 Januari 2023, 15:57 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - DIY telah memasuki masa pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 dengan menggunakan indikator Produk Domestik Bruto (PDRB) untuk mengukur pertumbuhan ekonomi.

Akumulasi PDRB DIY triwulan I hingga triwulan III 2022 atas dasar konstan telah berada pada level Rp 83,58 triliun atau meningkat 4,68% (ctc) dibandingkan akumulasi PDRB triwulan I hingga triwulan III 2021.

"Level PDRB dimaksud bahkan telah melampaui akumulasi PDRB triwulan yang sama tahun 2019 sebesar Rp 74,79 triliun. Apabila pencapaian tersebut digunakan sebagai ukuran keberhasilan, maka DIY menjadi salah satu provinsi yang mengalami pemulihan tercepat di Indonesia," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Budiharto Setyawan di Yogyakarta, Minggu (22/1/2023).

Budiharto mengatakan berdasarkan rilis BPS secara tahunan pada September 2021 ke September 2022, persentase penduduk miskin DIY menurun dari 11,91% menjadi 11,49%.

Penurunan secara tahunan terutama disebabkan penurunan persentase kemiskinan di perkotaan dari 11,20% menjadi 10,64%, sementara di pedesaan meningkat dari 13,99% di september 2021 menjadi 14% di September 2022.

"Meski demikian jika dibandingkan dengan posisi Maret 2022, persentase penduduk miskin di DIY meningkat dari 11,34% menjadi 11,49%. Peningkatan persentase penduduk miskin terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan naik dari 10.56% menjadi 10,64%. Di perdesaan meningkat dari 13,65% menjadi 14%. Peningkatan ini selaras dengan yang terjadi secara nasional," tuturnya.

Dalam pengukuran kemiskinan, Budiharto menyebut BPS telah merilis beberapa indikator. Berdasarkan indikator tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi DIY tergolong sangat baik, namun indikator garis kemiskinan yang mencerminkan nilai rupiah pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup selama sebulan mengalami penurunan baik di perkotaan maupun di pedesaan.

"Terkait indikator kemiskinan ini, kami telah melakukan asesmen. Beberapa hal penting dari hasil asesmen yang dapat kami sampaikan antara lain mayoritas masyarakat di DIY telah memiliki pekerjaan yang menghasilkan pendapatan. Walaupun mayoritas telah memiliki pekerjaan, namun secara statistik kemiskinan DIY dianggap masih tinggi," tandasnya.

Selain itu, pola konsumsi masyarakat DIY cenderung unik, yang relatif berbeda dibandingkan daerah lain. Kondisi demikian terus menjadi problem secara statistik, karena penduduk dikategorikan miskin apabila rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Sementara itu, kesenjangan pendapatan yang didekati dengan pengeluaran penduduk lokal dengan penduduk pendatang sangat tinggi. (Ira)

Kredit

Bagikan

BERITA TERKAIT